5268

GoldenLovers, Setiap orang dewasa yang berakal waras akan tahu bahwa jika ia berbuat jahat dan ketahuan, ia akan diadili dan dihukum karena perbuatan jahatnya. Mungkin ia tahu juga, karena ia waras, bahwa perbuatan jahatnya akan membuat sengsara orang-orang lain.

Sebagian orang, karena tidak begitu waras, tidak tahu apa dampak dari perbuatan jahat mereka terhadap kehidupan bersama. Tetapi apa sebetulnya yang disebut berakal waras?

Itu tidak mudah dijawab, sebab pada dasarnya setiap orang, yang kita sebut waras, akan menggunakan akal dan pengetahuan yang mereka miliki untuk mempertahankan pendirian masing-masing dan mempertimbangkan keputusan-keputusan yang mereka ambil: bergabung ke partai politik mana, tunduk kepada ideologi apa, merasionalisasi keyakinan yang mereka percaya, dan lain sebagainya.

Masing-masing akan membangun dasar-dasar pemikiran yang berbeda, mengajukan alasan-alasan untuk membela pendirian dan tindakan mereka, dan merasa tersakiti jika ada orang menyampaikan pendapat yang menyinggung kelompok mereka atau bertentangan dengan ideologi dan keyakinan mereka.

Dalam hal ini, kelompok dan ideologi dan keyakinan seperti menjadi bagian dari tubuh fisik mereka. Jika anda menyampaikan sesuatu tentang sebuah kelompok atau membicarakan ideologi dan keyakinan, dan mereka tidak sepakat dengan anda, mereka akan merasa tangan mereka sedang dicubit atau wajah mereka ditampar atau punggung mereka diseruduk dan mereka akan membalas anda beramai-ramai.

Urusan tentang kewarasan akal ini menjadi menarik ketika kita meninjaunya dari kenyataan bahwa pada akhirnya kita masing-masing hanya menggunakan akal untuk memberi alasan bagi setiap perbuatan kita, bagi setiap kekeliruan yang kita lakukan, termasuk untuk memberi alasan bagi apa pun jenis kebiasaan kita.

Orang-orang kreatif mengondisikan diri sendiri setiap hari untuk menjadi kreatif dan berupaya semakin kreatif, dan mereka memiliki alasan untuk membiasakan diri seperti itu. Para pemalas sama saja; mereka melatih diri sendiri setiap hari, sama tekunnya dengan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo berlatih sepakbola, untuk menjadi juara pertama dalam hal bermalas-malasan.

Orang-orang yang berbuat jahat juga memiliki alasan untuk perbuatan jahat mereka, tetapi tidak menarik mendengarkan alasan orang berbuat jahat. Saya pikir yang lebih menarik adalah mengetahui apa yang ada di dalam pikiran manusia penjahat.

Tentu kita tahu bahwa isi pikiran setiap orang berbeda-beda. Perbedaan itulah yang membuat manusia tetap menjadi dirinya sendiri. Ada manusia penjahat, ada manusia baik-baik, dan ada manusia baik-baik yang sanggup berbuat jahat dalam situasi terdesak. Golongan terakhir itu mendorong lahirnya kesimpulan bahwa kejahatan adalah ciri alami manusia.

Cesare Marco Lombroso, orang Italia yang disebut-sebut sebagai bapak kriminologi, menolak kejahatan sebagai ciri alami manusia dan mengajukan teorinya sendiri bahwa kejahatan adalah karakteristik yang diwariskan.

Para pelanggar hukum itu, kata Lombroso, adalah makhluk warisan leluhur, sisa-sisa zaman kuno yang masih lestari, peninggalan purba yang tidak punah oleh serbuan meteor atau banjir besar yang menenggelamkan puncak gunung. Mereka adalah fosil hidup yang dalam dirinya menumbuhkan kembali naluri ganas manusia purba dan binatang tingkat rendah. Mereka dikuasai oleh naluri-naluri bawaan--semacam bakat yang diturunkan dari langit--yang membuat mereka tidak mampu mematuhi hukum modern.

"Orang yang dilahirkan jahat bisa dikenali dari ciri-ciri fisiknya," katanya.

BACA JUGA:
Tontonan yang Salah Picu Anak Lakukan Kekerasan
Selamatkan Anak-anak Kita dari Para Predator

Lalu ia menyebutkan ciri-ciri fisik manusia penjahat sebagai berikut: memiliki rahang yang luar biasa besarnya, tulang pipi yang tinggi, ada tonjolan melengkung pada alis, mempunyai garis-garis yang tegas pada telapak tangan, rongga mata yang sangat besar, telinga berbentuk gagang wajan (yang lazim terdapat pada para penjahat, orang primitif, dan kera), tidak memiliki kepekaan terhadap rasa nyeri, penglihatannya sangat tajam, memiliki kegemaran menato tubuh, kemalasannya sungguh berlebihan, memiliki kesukaan terhadap pesta gila-gilaan, dan hasratnya untuk menumpahkan darah sungguh tak tertahankan.

Ciri-ciri tersebut ia umumkan dalam bukunya yang terbit pada 1876, berjudul L'uomo delinquente (Manusia Penjahat), setelah melakukan penelitian serius terhadap tengkorak Vilella, perampok terkenal Italia, yang konon sanggup mendaki bukit sambil memanggul seekor domba besar.

Lombroso menggunakan peralatan jangka dan mistar untuk mengukur seteliti mungkin rongga mata, lingkar batok kepala, dan panjang tangan Vilella. Dia juga menggunakan kedua perangkat itu untuk meneliti rongga mata, batok kepala, dan panjang tangan para narapidana dan prajurit-prajurit tentara--orang-orang yang memiliki kesanggupan merampas nyawa orang lain.

Apa yang disampaikan oleh Lombroso tentu terasa menggelikan dan kurang beradab untuk waktu sekarang. Ia terdengar sebagai prasangka yang tidak masuk akal dan kekanak-kanakan terhadap orang-orang yang dilahirkan dengan fisik tidak sempurna. Bahkan pada waktu itu pun teori Lombroso tidak mendapatkan dukungan luas dari kalangan cendekiawan.

Namun upaya untuk mengetahui karakteristik manusia penjahat tidak pernah berhenti. Sampai sekarang orang masih terus berusaha menemukan ciri-ciri khusus yang membedakan para pelaku kejahatan dan manusia biasa-biasa saja.

Penelitian mutakhir untuk mencari tahu perbedaan itu dilakukan oleh para ahli neuroscience. Mereka menyingkirkan ciri-ciri fisik yang tampak dari luar dan menyelam ke dalam batok kepala untuk memeriksa otak. Kesimpulan mereka: memang ada perbedaan antara otak manusia penjahat dan otak tukang tambal ban, tukang sayur, dan orang-orang lain yang menjalani hidup sehari-hari secara normal-normal saja.

Ada bagian otak yang dinamakan amygdala, yang bertanggung jawab terhadap rasa takut, agresi, dan interaksi sosial, dan bagian ini berkaitan erat dengan tindak kejahatan. Riset neuroimaging yang dipimpin oleh Dustin Pardini dari Universitas Pittsburgg, Pennsylvania, menyampaikan kesimpulan bahwa orang-orang dengan volume amygdala yang kecil memiliki kecenderungan tiga kali lebih agresif, kasar, dan psikopatik dibandingkan orang-orang dengan ukuran amygdala normal.

Orang-orang dengan volume amygdala kecil hampir tidak memiliki rasa takut, kurang bisa berempati kepada orang lain, dan tidak mengenal belas kasihan.

Kabar menggembirakan dari temuan ini: perangai jahat bisa dicegah dengan cara memberikan nutrisi yang baik bagi perkembangan fisik otak dan memberikan latihan-latihan kognitif yang bisa memperbaiki fungsi otak dan kemampuan berpikir. Semakin dini penanganan ini semakin baik.

Sayang dua-duanya sulit dipenuhi: nutrisi yang baik dan latihan kognitif untuk memperbaiki fungsi otak. Itu berarti anda harus cukup makmur agar bisa menyediakan makanan yang sehat dan pendidikan yang baik.

fShare
4