5268

GoldenLovers, Tubuh besar tidak menjamin keberanian. Seperti halnya gajah, meski bertubuh besar dan saat ini merupakan mamalia darat terbesar, mereka ternyata menghindari lebah yang berukuran jauh lebih kecil.

Ahli zoologi Oxford University di Inggris, Lucy King, telah mempelajari spesies gajah afrika (Loxodonta africana) dan menemukan bahwa spesies ini menghindari lebah madu afrika (Apis mellifera scutellata).

Perilaku menghindar gajah bukan karena sengatan lebah, karena kulit gajah tergolong tebal, melainkan karena takut pada lebah yang berkerumun.

Lebah afrika memiliki karakter berkerumun secara agresif. Keberadaan ratusan lebah ini sangat mungkin menyengat gajah di daerah paling sensitif, seperti belalai, mulut, dan mata. Karena area-area ini merupakan area sensitif maka jelas akan menimbulkan rasa sakit.

Temuan tersebut kemudian menginspirasi terciptanya "pagar sarang lebah" sebagai alat yang terbukti sukses untuk melindungi tanaman berskala kecil.

Sudah bukan rahasia, interaksi gajah liar dan manusia sering menimbulkan konflik seperti ladang petani yang rusak karena gajah mencari makan di habitatnya yang semakin mengecil.

Inti dari pagar sarang lebah ini, para petani mengikat sarang lebah di sekitar area ladang mereka dengan jarak setiap 20 meter. Langkah ini terbukti membuat gajah menjauh, sehingga mengurangi interaksi gajah dan manusia yang pada umumnya berakibat buruk.

Praktik ini mulai meluas di Afrika. Dengan cara ini petani dapat melindungi gajah sekaligus memberikan sumber penghasilan baru, yaitu panen madu dua kali dalam setahun.

Dalam sebuah studi baru yang dipublikasikan di jurnal Current Biology, King dan rekan-rekannya menyelidiki apakah strategi serupa juga akan berhasil dengan spesies gajah asia (Elephas maximus).

Seperti halnya gajah Afrika, populasi gajah Asia juga tergerus karena kehilangan habitat dan konflik dengan manusia. Hal ini difokuskan terutama untuk mengatasi konflik gajah-manusia di Sri Lanka, Nepal, Thailand, dan India. Terlebih, gajah asia 10 kali lebih terancam daripada saudara mereka di Afrika.

Seiring dengan pembangunan kawasan lindung satwa liar, memberi petani metode untuk melindungi tanaman mereka sangat penting untuk konservasi gajah.

"Jika kami dapat membantu menerapkan hasil dari penelitian ini untuk mengembangkan sistem pagar penghalang sarang lebah efektif bagi petani pedesaan Asia yang tinggal dengan gajah, kita dapat memiliki dampak signifikan pada kelangsungan spesies gajah Asia," kata King dikutip dari Science Daily (22/1).

BACA JUGA:
Nikola Tesla, Kisah Sang Prometheus Modern

Dalam studi baru tersebut, King dan timnya memutar rekaman suara sarang lebah madu asia (Apis cerana indica) yang berada dalam kondisi terganggu ke 120 gajah liar di 28 kelompok yang berbeda yang beristirahat di bawah pohon di Taman Nasional Uda Walawe di Sri Lanka.

Ketika rekaman lebah diputar, gajah merespons dengan bergerak menjauhi tempat peristirahatan mereka. Meski demikian, gajah asia terlihat tidak setakut gajah afrika saat berhadapan dengan lebah.

Gajah-gajah asia berperilaku sedikit berbeda dengan tidak menggelengkan kepala atau mandi debu, tapi mereka memang membuat suara berisik dan saling menyentuhkan belalai ke sesama atau memasukkan belalai ke mulut gajah lain.

Bisa jadi sebagai tanda kepastian atau kenyamanan. Gajah-gajah asia juga kadang-kadang membanting belalai mereka ke tanah karena takut.

Tidak jelas apakah gajah asia bereaksi berbeda terhadap lebah ini karena lebah di Asia kurang agresif, atau mungkin sesederhana gajah memiliki respons perilaku yang berbeda.

Perilaku di atas kurang sejalan dibandingkan dengan percobaan kontrol di mana gajah diperdengarkan suara acak dengan frekuensi berbeda-beda namun intensitasnya sama. Meski perbedaan hasil keduanya tidak jauh, suara lebah terbukti memang mendorong gajah untuk bergerak menjauh.

Alasan utama para periset menggunakan rekaman suara lebah A. cerana indica karena spesies ini merupakan spesies yang paling mudah dikelola untuk produksi madu di Asia. Meskipun berukuran lebih kecil dan tampak tidak seagresif lebah Afrika, secara morfologis mereka serupa. Yakni mampu melakukan serangan menyengat, dan mengandung kelenjar racun berukuran serupa.

"Oleh karena itu tampaknya secara fisik mampu menyebabkan ketidaknyamanan pada gajah," ujar para penulis.

Mereka menyelesaikan 14 percobaan lebah dan 14 uji coba kontrol. Dari jumlah tersebut, 22 adalah dari kelompok betina dan keluarga. Enam lainnya merupakan lebah soliter.

fShare
5