5022

GoldenLovers, Valentine’s Day atau hari “Kasih Sayang” yang awalnya muncul di Eropa, mulai tahun 1980an hingga sekarang telah dirayakan di Indonesia yang jatuh pada setiap tanggal 14 Februari. Berbagai fenomena muncul untuk memperingati hari kasih sayang tersebut, dimana sebagian besar yang merayakan adalah individu yang berada pada usia remaja.

Fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa perayaan hari Valentine telah menjadi suatu budaya terutama untuk kaum remaja. Budaya perayaan yang banyak terjadi saat ini malah lebih banyak mengarah pada hal-hal yang bersifat negatif yang tentunya telah menggeser norma masyarakat atau budaya timur yang selama ini dianut oleh bangsa Indonesia.

Hal ini tentunya akan sangat merugikan individu yang melakukan dan efek terbesarnya akan merusak moral generasi penerus bangsa Indonesia. Apa jadinya jika generasi penerus telah rusak secara moral dan etika? Siapa yang akan memimpin bangsa ini nanti? Bagaimana masa depan bangsa Indonesia ke depan?

Inilah yang menjadi pertanyaan para pemimpin saat ini. Berbagai kekhawatiran akan nasib bangsa Indonesia ke depan muncul dalam perayaan hari kasih sayang ini. Hal ini yang menjadikan alasan mengapa banyak yang melarang perayaan hari valentine yang sebenarnya bukan budaya bangsa Indonesia.

Apa itu Valentine’s Day?

Beberapa sejarah telah mencatat peristiwa-peristiwa apa saja yang melatar belakangi munculnya hari valentine atau hari kasih sayang, antara lain:

  • Pendeta Muda Bernama Valentine
    Valentine adalah nama seorang anak muda Saint Valentine, yang kemudian dikenal sebagai Pendeta Muda yang baik dan taat beragama Kristen Romawi. Kaisar Romawi, Claudius II melarang anak-anak muda menikah muda, karena anak muda sangat baik dijadikan tentara. Valentine menolak perintah kaisar untuk menikah muda dan akhirnya ditnagkap dan dipenjara. Didalam penjara, Valentine yang dekat dan akrab dengan anak-anak muda, tetap berkomunikasi dengan jalinan kasih kepada anak-anak muda yang kehilangan idolanya (pujaannya). Valentine dalam penjara selalu mendapatkan ucapan kasih sayang melalui pintu jeruji besi dan tembok batu. Akhirnya Valentine dihukum mati tanpa proses oleh Kaisar Claudius II, tahun 629 Masehi. Kematian Valentine itupun dijadikan simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan dalam menghadapi kenyataan hidup duniawi. Karena kesalehan Valentine itu, maka ia diberi gelar “Saint atau Santo” yang biasanya disingkat “St”. Gelar Saint atau Santo diberikan hanya kepada para pemuka agama Kristen. Sejak masa Paus Glasius tahun 469 Masehi diadakan kenangan dan peringatan atas kematian Santo Valentine. Kematian Valentine diperingati dengan istilah Valentine’s Day yang artinya: “Hari Kasih Sayang”.
  • Cerita lain tentang Valentine’s Day, dikenal di Normandin, dengan istilah “Galantine”. Artinya hampir sama dengan Valentine, yaitu yang diartikannya: “gagah” atau “kasih”. Kemudian dihubungkan dengan “Santo Valentine” artinya adalah seorang yang meberikan cinta dan kasih”.
  • Di Inggris, tanggal 14 Februari menjadi kepercayaan “Hari Perkawinan Burung”. Kata penyair Inggris yang bernama Geoffrey Chaucer, tahun 1300 M, menulis dalam buku “The Parliament of Fowls”, hari Valentine itu adalah : “pada saat itu segala unggas mencari pasangan kawin”. Kepercayaan ituberkembang menjadi kepercayaan umum di Eropa: “Sebaiknya pada tanggal 14 Februari itu dijadikan momentum muda-mudi mencari teman hudupnya”.
  • Di Amerika Serikat, Valentine’s Day dipopulerkan dengan “Greeting Card (kartu Ucapan Selamat)”, untuk membina perdamiana dunia, terutama setelah Perang Dunia Kesatu.
  • Hari Gelap di Korea Selatan
    Valentine’s Day (hari Kasih Sayang) berubah di Seoul (Korea Selatan) diselenggarakan tiap tanggal 14 April, dikenal dengan “Hari Gelap” bagi pecari cinta dan kasih sayang. Kaunmuda alias jomblo tampil dengan pakaian hitam, termasuk menyantap makanan juga berwarna hitam, karena kesal tak punya pasangan.
  • Jepang memperingati hari baik setiap tanggal 14 Maret, Pria memberikan kado bagi perempuan kekasihnya
    Peristiwa yang dimaksudkan untuk mengenang seorang pria yang baik dan pengasih telah bergeser pada pesta pora yang mengarah pada perilaku amoral. Fenomena-fenomena yang muncul diatas merupakan bentuk pergeseran nilai perayaan valentine’s Day.

Bagaimana fenomena tersebut bisa terjadi pada remaja?

Menurut Santrock (2003) masa remaja merupakan suatu periode transisi dari masa awal anak anak hingga masa awal dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial. Remaja dimulai pada usia kira kira 10 hingga 13 tahun dan berakhir pada usia 18 tahun hingga 22 tahun. Lebih lanjut Hurlock (2004) menyatakan masa remaja remaja dimulai sejak individu menunjukkan tanda-tanda pubertas dan berlanjut hingga kematangan seksual. Perubahan hormon seksual ditandai dengan kematangan seksual sehingga dorongan seksual yang timbul semakin meluap.

Sejalan dengan perkembangan fisiknya remaja memiliki tugas perkembangan yang seharusnya dapat dipenuhi. Salah satu tugas perkembangan remaja adalah membentuk hubungan yang lebih matang dengan lawan jenis dan dalam memainkan peran yang tepat misalnya dengan berpacaran. Seharusnya pacaran menjadi sebuah hubungan yang memberikan manfaat positif, karena melalui pacaran seseorang dapat lebih memahami mengenai peran, nilai-nilai dan norma (Paul & White dalam Dariyo, 2004).

De Guzman & Diaz (dalam Kurnia, 2013) menganggap pacaran dapat menjadi alasan sebagai wujud kedekatan antara dua orang yang sedang jatuh cinta dan sebagai pintu masuk hubungan yang lebih dalam lagi, yaitu hubungan seksual.

Anggapan yang salah mengenai pacaran yang sebenarnya hanya untuk proses saling mengenal satu sama lain, menjadi bergeser dengan menganggap wajar meluapkan nafsu seksual karena alasan cinta. Anggapan ini semakin diperjelas dengan adanya fenomena hari kasih sayang seperti diatas, moment ini biasa digunakan oleh remaja untuk melepaskan keperawanan yang dianggap wujud pernyataan kasih sayang kepada pasangan kekasih. Hal ini menjadi suatu perbuatan yang dianggap umum dilakukan karena banyak yang juga melakukan hal yang sama di hari tersebut.

Beberapa faktor yang turut berperan pada perilaku seks pranikah menurut Sarwono (2004) antara lain: (1) adanya penyebaran informasi dan rangsangan seksual melalui media massa dengan adanya teknologi. Remaja yang sedang dalam periode ini ingin tahu dan mencoba akan meniru apa yang dilihat dan apa yang didengarnya dari media. (2) Orang tua bersikap masih mentabukan pembicaraan mengenai seks dan tidak terbuka terhadap anak. Kedua faktor tersebut membuat anak selalu mencari informasi pada teman dan jika teman memiliki anggapan yang keliru mengenai seks maka remaja akan cenderung ikut-ikutan.

Pada usia remaja, secara sosial waktu yang digunakan akan lebih banyak dengan teman sebaya dari pada dengan keluarga. Menurut Condry (dalam Santrock, 2007) dimasa remaja, relasi dengan kawan sebaya memiliki proporsi yang besar dari kehidupan individu. Berdasarkan sebuah penyelidikan, diketahui bahwa selama satu minggu, remaja laki-laki dan perempuan meluangkan waktunya dua kali lebih banyak untuk berkumpul bersama kawan-kawan sebaya dibandingkan bersama orang tuanya.

Bagaimana peran orang tua menghadapi fenomena tersebut?

Menurut Hall (dalam Sunarto, 2008), masa remaja sebagai “storm and stress”. Selama masa remaja banyak masalah yang dihadapi karena remaja itu berupaya menemukan jati dirinya (identitasnya). Hal tersebut membuat remaja memerlukan dukungan sosial orang tua seperti perhatian, kasih sayang, nasehat dan bantuan material dari orang tua untuk membimbing dan mengarahkan remaja dalam menentukan tingkah lakunya. Remaja akan tumbuh dan berkembang dengan baik ketika orang tua memberikan dukungan, baik secara materi maupun emosional.

Menurut Smetana (dalam Santrock, 2007) orang tua memiliki otoritas lebih besar. Sebagai contoh sebuah riset menemukan bahwa orang tua dan remaja memandang relasi pada kawan-kawan sebaya merupakan bidang di mana orang tua tidak memiliki banyak otoritas untuk mengatur pilihan remaja, sementara dalam bidang moral, agama, dan pendidikan, orang tua memiliki otoritas lebih besar.

Berdasarkan pendapat Smetana, orang tua memiliki peranan penting terhadap remaja dalam memenuhi kebutuhan informasi mengenai moral, agama, dan pendidikan. Orang tua lebih dipercaya oleh remaja dalam menentukan pilihan-pilihan yang terkait pengembangan karakter dan pemenuhan kebutuhan informasi yang menunjang proses belajar dalam pendidikan, namun dari segi emosional remaja lebih memilih untuk memperoleh dukungan dari teman sebaya.

Penaman moral dan etika perlu diberikan sejak dini kepada anak. Anak perlu diberikan pemahaman apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan sesuai dengan tahapan perkembangannya. Adanya komunikasi antara orangtua dan anak akan mempermudah pemberian informasi dari orang tua ke anak.

Peran orang tua yang dimaksud sini, bukan hanya peran ibu yang selalu dianggap bertanggungjawab akan pendidikan dan pengasuhan anak, namun peran ayah juga tidak kalah pentingnya dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Ayah tidak hanya berperan dalam mencari nafkah namun perlu juga memantau perkembangan anak-anak mereka. Cooparenting dari keduanya akan dapat menciptakan pola komunikasi yang baik dalam keluarga dan pendidikan anak sejak dinidan tentunya akan sangat bermanfaat sampai anak mereka tumbuh remaja.

Hall menyatakan bahwa selama masa remaja banyak masalah yang dihadapi karena remaja itu berupaya menemukan jati dirinya (identitasnya). Hal tersebut membuat para remaja memerlukan dukungan sosial orang tua seperti perhatian, kasih sayang, nasehat, dan bantuan material dari orang tua untuk membimbing dan mengarahkan para remaja tersebut dalam menentukan tingkah lakunya.

Remaja akan tumbuh dan berkembang dengan baik ketika orang tua memberikan dukungan, baik secara materi maupun emosional. Hal tersebut terbukti dalam penelitian Felson,dkk yang mendapatkan hasil bahwa dukungan sosial orang tua itu berdampak positif pada harga diri remaja, penurunan perilaku agresi, kepuasan hidup dan pencapaian prestasi akademik.

Berdasarkan uraian diatas, persoalan perayaan valentine day yang dilakukan remaja seperti fenomena diatas bukan hanya tugas guru atau orang tua, melainkan tugas kita semua agar bangsa Indonesia menjadai bangsa yang bermartabat dan menjunjung nilai-nilai luhur seperti yang dicita-citakan oleh para pendahulu bangsa ini.

fShare
0