5268

GoldenLovers, Sebuah lembaran kertas yang menyelimuti spanduk Java Jazz Festival (JJF) 2018 dibuka. Beberapa pengunjung bersorak ketika nama Goo Goo Dolls muncul. Band rock asal AS ini akan meramaikan JJF 2018 dalam penampilan spesial (special show).

Lho, apa hubungan Goo Goo Dolls dan jazz? Dalam laman Wikipedia band yang berdiri sejak 1986 itu, tak ditemukan kata "jazz" sama sekali. Penampilan panggung mereka ganas, seperti band rock pada umumnya.

"Kami mencoba dengan sangat keras untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda. Ini kami buat agar Java Jazz lebih besar. Untuk menggandeng yang muda maupun yang sudah mature," ungkap Direktur Utama Java Festival Production (JFP) Dewi Gontha dalam konferensi pers di No Boundary Cafe, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (18/1/2018).

"Kami ingin ada regenerasi. Diversity menjadikan Java Jazz seperti acara keluarga," jelas perempuan berusia 43 itu.

Diversity (keragaman) ini sesuai dengan tema yang diusung JJF 2018, yaitu Vintage (lawas), yang terasa dari nuansa spanduk acara tahunan itu. "Kami ingin menceritakan kalau jazz itu cukup tua, mature, dan banyak keturunannya," jelas Dewi.

"Dari historinya sampai sekarang, jazz itu kan bisa nge-blend dengan musik apa saja.
Kalau lihat line-up (JJF 2018), kita seperti melihat histori jazz," tambah Elfa Zulham, penyanyi jazz yang bertindak sebagai Program Director JJF 2018.

Lantas Elfa memberikan sebuah presentasi mengenai para penampil dan genrenya masing-masing, yang bermuara pada kelahiran jazz pada akhir abad ke-19 di AS. Mulai genre ragtime (contoh BB Dixieland), blues (Matthew Whitaker), acid jazz (Incognito), swing (Hajarbleh Bigband), dan fusion (Dwiki Dharmawan).

Cabang kedua mewakili genre musik yang bermuara dari jazz tapi sudah punya karakter privat karena musik yang terus berevolusi. Seperti r&b/soul, yang pada dasarnya merupakan evolusi dari genre blues. Genre rock yang diusung Goo Goo Dolls pun pada dasarnya perkembangan dari musik blues.

Bicara Goo Goo Dolls, bukan hanya mereka yang mengisi sesi special show. Ada musisi pop Lauv dan penyanyi r&b Daniel Caesar.

Mengapa JJF 2018 kembali menghadirkan special show? Tahun lalu penampilan spesial dengan harga tiket lebih mahal itu absen --untuk pertama kali dalam 14 tahun penyelenggaraan JJF.

"(Tahun lalu), justru pengunjung menyarankan kami mengadakan special show. Karena ini menyortir pengunjung agar mereka bisa menonton lebih nyaman," ungkap Dewi. Dengan tiket yang lebih mahal, artinya yang rela membeli tiketnya kemungkinan besar memang para penggemar tiga musisi tersebut.

Untuk jumlah pengunjung, Dewi mengaku mengharapkan 110 hingga 115 ribu traffic pengunjung. Kurang lebih akan ada 100 pertunjukan di 10 panggung. Jumlah panggung itu lebih sedikit dari tahun lalu (14).

"Berkurang karena kami memilih artis yang namanya bisa lebih kuat, lebih bisa menarik orang untuk hadir," ujar Dewi. Elfa menyahut, "Saya yakin penonton benar-benar menikmati banget genre yang hadir di Java Jazz kali ini."

JJF 2018 bakal berlangsung selama tiga hari, yakni pada 2, 3 dan 4 Januari 2018 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta Pusat.

Untuk harga tiket, yang pertama ada Daily Pass untuk digunakan per hari. Saat ini, kategori harian dijual dengan harga Rp630.000 dan makin dekat acara bakal makin mahal. Sedangkan yang kedua adalah 3 Day Pass agar pengunjung bisa mendatangi JJF 2018 selama tiga hari sekaligus dengan harga senilai Rp1.465.000.

Dalam kategori special show, tiket tambahan untuk menonton Lauv dan Goo Goo Dolls dibanderol masing-masing Rp199.000, sementara Daniel Caesar Rp149.000.

Selain tiga artis kondang itu, akan ada Matthew Whitaker Trip, JP Cooper, Avery*Sunshine, Ivan Lins, New York Voices, Jhene Aiko, BJ The Chicago Kid, Vanessa Williams dan lain-lain. Sementara penampil lokal antara lain Andien, The Rollies, Nonaria, Teddy Adhitya, Java Jive x Fariz RM, Mondo Gascaro, Yura Yunita, Dira Sugandi, Adhitia Sofyan, dan Iwa K x Neurotic. (Indra Rosalia - GoldenHeart Radio 92.6 FM Manado)

fShare
0