5268

GoldenLovers, Beberapa waktu lalu Google Indonesia merilis tentang daftar Year in Search 2017. Rilis ini berisi tentang sepuluh pencarian terpopuler di Indonesia sepanjang tahun 2017 di mesin pencari Google. Salah satu kategori di dalam Year in Search 2017 adalah 'Cara Menjadi...', yang menampilkan daftar pencarian profesi yang diinginkan melalui pencarian lewat Google.

Menjadi "Selebgram" dan "Youtuber" ternyata menempati tempat pertama dan kedua, sebagai profesi yang paling dicari. Diikuti dengan menjadi "Blogger", "Driver GO-JEK", "Pengusaha Sukses", "Agen Bukalapak", "Reseller Online Shop", "Driver Grab", "Penjual Lazada", dan "Muser".

Selebgram, atau selebriti Instagram, akhir-akhir ini memang cukup sering terdengar. Dengan pengikut sebanyak minimal 22 ribu, dia bisa mendapatkan penghasilan tambahan dengan menjadi influencer produk atau merek tertentu.

Uniknya, bukan hanya orang dewasa atau remaja yang dapat menjadi selebgram, bayi dan anak-anak juga bisa menjadi jutawan, sebagai selebgram. Hal ini terungkap dalam artikel yang diunggah situs Tempo.co, bahwa dengan mengunggah foto dan menuliskan keterangan, seseorang dapat meraih ratusan ribu hingga puluhan juga rupiah.

Berbeda dari Facebook atau Twitter yang memang sudah lama digunakan sebagai kegiatan promosi oleh influencer, Instagram memiliki karakteristik yang unik, yaitu menitikberatkan pada fitur berupa foto dan video.

Dibandingkan kedua platform media sosial sebelumnya, seorang instagrammer memiliki kedekatan yang lebih dengan para pengikutnya. Mereka dapat menampilkan foto-foto berbagai kegiatan mereka, bercerita melalui keterangan foto atau video, dan berinteraksi dengan para pengikut.

Baca Juga:
Bagaimana Hidup tanpa Media Sosial?

Dikutip dari Kompas.com, CEO SociaBuzz, Rade Tampubolon, mengungkapkan bahwa fenomena munculnya selebgram terjadi karena Instagram itu visual.

"Awalnya Twitter, tetapi basic-nya Twitter kan teks," ujarnya. "Ternyata orang lebih senang melihat visual dan Instagram adalah tempatnya, dan semakin banyak juga orang mem-posting konten menarik."

Semakin unik, semakin menarik, atau bahkan semakin kontroversial unggahan seseorang di akun Instagramnya, maka semakin banyak pengikut yang akan mereka dapatkan. Selanjutnya, semakin banyak pengikut setia, hingga ratusan ribu atau jutaan, maka bukan hanya produk-produk rumahan tetapi juga berbagai perusahaan besar yang akan melirik para selebgram itu untuk mempromosikan produk mereka.

Selebgram, menjadi bisnis yang menjanjikan.

Seseorang dapat dikatakan sukses sebagai selebgram jika akun Instagramnya diikuti oleh lebih dari 1 juta pengikut, dan menarik banyak tanggapan berupa likes atau komentar.

Untuk menjadi selebgram seseorang harus konsisten mengelola akun Instagramnya agar layak kunjung. Misalnya dengan pilihan konten, penjadwalan, serta memperhatikan estetika.

Mencuri karya orang lain

Namun tidak jarang, demi mendapatkan lebih banyak pengikut, seorang Instagrammer melakukan perbuatan yang dianggap kurang etis, seperti membeli pengikut. Bahkan ada juga yang melakukan kebohongan, seperti memalsukan identitas, karakter, penampilan, sampai melakukan pencurian foto atau video dari pemilik akun Instagram lain.

Seperti yang dilakukan seorang selebgram bernama Adriansyah Martin. Dengan jumlah pengikut sebanyak 42 ribu, sebenarnya dia sudah dapat digolongkan sebagai selebgram.

Namun kemudian terungkap bahwa foto-foto yang terdapat di dalam akun Instagramnya ternyata merupakan hasil karya orang lain, atau diambil dari akun Instagram orang lain. Adriansyah kemudian melakukan editing dengan mengganti wajah pengunggah asli dengan wajahnya sendiri.

Foto-fotonya yang sedang berada di dalam kabin pesawat yang mewah, seolah-olah menampilkan Adriansyah sering bepergian di kelas eksekutif berbagai maskapai penerbangan, ternyata berasal dari akun @milesmogul, milik selebgram Nicky Kelvin.

Tidak hanya itu, Adriansyah pernah berpose di depan sebuah mobil mewah berwarna merah, yang ternyata diambil dari akun Instagram milik @reecewabawa.

Saat ini akun milik Adriansyah Martin telah diblokir karena laporan berbagai pihak.

Fenomena pemalsuan identitas

Peristiwa ini menarik perhatian banyak orang. Psikolog A. Kassandravati Putranto dalam wawancara dengan Tempo.co, mengatakan bahwa fenomena memalsukan identitas, penampilan, informasi, karakter dan sebagainya merupakan hal yang sering muncul ketika seseorang sering menggunakan media sosial.

Ada banyak faktor yang memicunya, sepertinya untuk menciptakan imaji atau gambaran diri, alasan ekonomi, tekanan dari pihak lain, serta masalah konsep diri. Namun Kassandra menambahkan bahwa kecenderungan untuk melakukan tindakan pemalsuan tersebut tergantung pada kepribadian orang tersebut.

Menurut psikolog Liza M Djaprie, dalam wawancara dengan Beritagar.id, yang dilakukan Adriansyah Martin dengan mencuri, mengedit dan mengunggah kembali foto-foto orang lain di akun pribadinya, bisa jadi karena ingin menambah pengikut.

Akan tetapi, juga bisa merupakan gambaran bahwa dia sangat menginginkan bergaya hidup mewah, seperti yang ditampilkan oleh mereka yang fotonya dicuri tersebut. Dia ingin narsis di tempat-tempat tersebut, tetapi tidak atau belum mampu melakukannya.

Adriansyah, bisa jadi merasa kurang percaya diri dengan keadaannya yang dirasa tidak sempurna, sehingga tidak dapat menampilkan foto-foto hebat di akun Instagramnya. Dia merasa bisa menggaet lebih banyak pengikut jika menampilkan foto-fotonya di berbagai tempat yang tidak bisa dijangkau oleh orang biasa.

Situs Fortune pernah mengangkat hasil penelitian dari American Psychological Association (APA) yang menyebutkan bahwa di kalangan orang-orang yang lahir antara pertengahan tahun 1980an sampai awal tahun 2000an, menjadi sempurna atau perfeksionis merupakan hal yang penting.

Perfeksionis ini digambarkan sebagai dorongan pribadi dan eksternal yang kuat untuk menyamai metrik masyarakat tertentu, misalnya masyarakat dengan standar ekonomi tertentu yang bisa memperoleh pelayanan terbaik.

Keinginan ini tentu berpotensi memberikan tekanan yang terlalu besar dan harapan yang berlebihan terhadap diri sendiri.

"Seperti yang dilakukan Adriansyah," ujar Liza, "Akhirnya dia sampai tidak bisa menggunakan filternya untuk membedakan mana yang bisa dan yang tidak bisa dilakukan untuk meningkatkan kepopulerannya di media sosial."

Dan tentu saja untuk menambah penghasilan dari "profesinya" sebagai selebgram.

fShare
0