GoldenLovers, Satu per satu tabir peristiwa bom gereja di Surabaya terungkap. Pelaku merupakan satu keluarga pimpinan Dita Oespriarto.

Bom yang diledakkan Dita dan keluarga di tiga gereja di Surabaya, yakni Gereja Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro, dan GPPS Arjuna memunculkan faka baru. Pelaku berasal dari keluarga yang mampu secara ekonomi.

Tempat tinggal di rumah mewah, tepatnya di Kompleks Wonorejo Asri, Kavling 22, Wonorejo Rungkut, Surabaya. Rumah di perumahan ini rata-rata dijual seharga Rp1,2 miliar hingga Rp1,5 miliar.

BACA JUGA:

Berdasarkan keterangan tetangga, Dita adalah pengusaha minyak jintan hitam, minyak wijen, serta minyak kemiri. Minyak tersebut, juga dipasarkan oleh Dita melalui jejaring dunia maya.

Sedangkan, sang istri, Puji Kuswati merupakan seorang lulusan AKademi Perawatan RSI Surabaya. Informasi ini didapat dari laman Facebook yang sudah tak aktif sejak 2012.

Selain itu, orang tua Puji juga dikenal sebagai orang terpandang di Banyuwangi, Jawa Timur. Bahkan, Ketua RT setempat menyebut, orang tua Puji merupakan orang paling kaya di Banyuwangi.

"Pak RW cerita, bahwa mertuanya Pak Dita (orang tua Puji Kuswati-red) ini orang terkaya di Muncar, Banyuwangi. Nah, setiap datang ke sini, mertuanya Pak Dita ini bawa mobil mewah, dikawal oleh petugas," ujar Khorihan, Ketua RT 02 Wisma Indah, tempat tinggal Dita sekeluarga, Senin (14/5).

Rumah orang tua kandung Puji Kuswati di Desa Tembokrejo Kecamatan Muncar Banyuwangi (foto: Istimewa)

Berbeda dengan kasus terorisme sebelumnya, Dita dikenal cukup bergaul dengan warga. Dita dan keluarga juga kerap salat berjemaah bersama warga di musala kompleks.

"Tidak ada yang aneh, perilaku kehidupan sehari-hari sama seperti warga yang lain. Lebih intens berkomunikasi. Dia ibadah salat di musala, Magrib, Isya, Subuh," tambah Khorihan.

Kegiatan itu juga masih dilakukan sehari sebelum aksi bom bunuh diri dilakukan. Dita dan keluarga masih Salat Subuh berjemaah di musala. Tapi, Khorihan sempat melihat anak kedua Dita, Firman Halim (16) menangis usai Salat Magrib sehari sebelum bom bunuh diri.

"Mereka masih salat Subuh berjemaah sebelum hari pemboman. Oh iya, Maghrib sebelumnya anak kedua habis salat sempat nangis-nangis terus dirangkul, dicium, di'puk-puk'," ungkap Khorihan.

Dita dan Keluarga, pelaku ledakan bom di Surabaya. (Foto: Facebook/Puji Kuswati)

Belakangan diketahui, benih sikap radikal sudah muncul dari diri Dita sejak masih SMA. Ahmad Faiz Zainuddin, rekan SMA Dita mengungkapkan, kakak kelasnya itu sudah mulai ikut kelompok pengajian yang berisi materi ekstrem sejak SMA.

"Saya tidak pernah kenal dengan dia. Hanya saja, saya pernah ikut di pengajian semacam yang dia ikuti. Sepertinya Dita ini terus bertransformasi pindah ke pengajian yang lebih ekstrem lagi," tutur Ahmad Faiz.

Dari informasi yang didapat Faiz dari rekan-rekan lainnya, Dita menolak untuk ikut acara upacara bendera. Sebab menurutnya hormat kepada bendera adalah perbuatan syirik.

"Dia menolak ikut upacara bendera karena menganggap hormat bendera adalah syirik, ikut bernyanyi lagu kebangsaan adalah bid’ah dan pemerintah Indonesia ini adalah thoghut," ujar Pria alumni Fakultas Ekonomi UNAIR ini.

Guru BK sempat memanggil Dita untuk berdiskusi soal berbagai penolakan itu. Tapi, tidak bisa mengubah pendirian dan keyakinannya terkait banyak hal itu. Cerita ini didapat dari seniornya yang juga anggota Rohis semasa sekolah.

"Memang dia dipanggil guru BK untuk diajak diskusi, tapi kalau sebuah ideologi sudah tertancap kuat, seribu nasihat tidak akan masuk ke hati. Dan akhirnya pihak sekolah menyerah, toh dia tidak bertindak anarkis, bahkan terkenal cerdas, lemah lembut, dan baik hati," kata Ahmad Faiz.

Rupanya, Dita memang bercita-cita untuk mati syahid. Hal itu pernah disampaikan langsung oleh Dita kepada ibundanya, Sumijati.

"Dia pernah bilang doakan supaya mati syahid. Sudah lama bilang gitu, pas tinggal di sana (rumah di Wisma Indah). Cita-citanya kepengin mati syahid," kata Sumijati.

Sumijati juga tak pernah menyangka pelaku bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya merupakan anaknya, Dita.

"Saya kaget, saya bingung. Malah saya bilang gini ya Allah itu ada orang ngebom lagi itu siapa yah. Saya ndak tahu, terus tahu-tahu anak saya nangis dia bilang, Bu yang ngebom itu Mas Dita," tutur Sumijati.

H Rosiono (bertopi putih), perwakilan keluarga bapak kandung Puji Kuswati, pelaku bom bunuh diri Surabaya, didampingi perangkat Desa Tembokrejo. (FOTO: Syamsul Arifin/ TIMES Indonesia)

Sikap yang ditunjukkan Dita ini rupanya mendapat dukungan dari seseorang yang dianggap sebagai guru spiritual atau ideolog. Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengatakan, Dita terkait dengan satu keluarga yang berperan sebagai ideolog yang pernah dideportasi dari Turki.

"Dita ini terkait dengan satu keluarga. Saya tidak bisa sebutin namanya (satu keluarga) karena sedang kami cari," kata Tito.

"Mereka ini adalah ideolog. Yang baru pulang satu keluarganya ditangkap oleh Turki kemudian dideportasi ke Indonesia. Pimpinan dari keluarga yang ditangkap di Turki ini menjadi ideolog dari kelompok ini," ucap Tito.

Rangkaian peristiwa bom di Jawa Timur memperlihatkan pola baru yakni dengan menyertakan keluarga, termasuk anak-anak. Saat kejadian bom GKI Diponegoro, Puji Kuswati, istri Dita, membawa dua anaknya Fadhila Sari (12) dan Famela Rizqita. Tak hanya Puji, pada tubuh kedua anak perempuannya itu pun telah dililit bom.

Di Gereja Santa Maria, giliran Dita Oerpriarto dan dua anaknya yakni Yusuf Fadhil (18) dan Firman Halim (16), yang jadi pelaku dalam serangan ini. Mereka berdua menerobos masuk pagar penjagaan Gereja Santa Maria menggunakan sepeda motor dan meledakkan diri di tengah kerumunan.

fShare
0