GoldenLovers, Informasi palsu tentang bom di pesawat kali ini memakan korban. Bukan hanya mengorbankan waktu akibat penundaan penerbangan; melainkan juga membuat sejumlah orang terluka.

Teriakan tentang bom di pesawat Lion Air JT 687 di Bandara Internasional Supadio Pontianak pada Senin (28/5/2018) membuat panik penumpang. Salah satu penumpang membuka pintu darurat di bagian sayap. Penumpang lain berebutan keluar. Akibatnya, beberapa orang terluka.

Padahal tak ada bom di pesawat itu. Seorang pemuda disebut-sebut telah mengatakan ada bom di dalam tasnya ketika ditanyai oleh pramugari. Belakangan, terbukti, tak ada bom di dalamnya.

Kasus informasi palsu tentang keberadaan bom di pesawat terus saja terjadi. Pada bulan Mei ini saja, sampai tanggal 28 lalu, telah terjadi 7 kasus.

Hari kedua bulan Mei sudah dibuka dengan satu kasus. Seorang perempuan, penumpang pesawat Lion Air JT 120, yang memberitahu salah seorang anak kabin bahwa ada bom di pesawat itu.

Akibatnya, 166 penumpang dewasa, 6 anak-anak dan 2 bayi beserta seluruh barang bawan dan kargo diturunkan. Jadwal penerbangan pun tertunda.

Tiga hari kemudian, Sabtu 5 Mei, hal serupa terjadi lagi. Seorang perempuan, penumpang Lion Air JT 787, mengaku barang bawaannya mengandung bom kepada awak kabin ketika memasuki pesawat. Lagi-lagi, itu hanya informasi palsu yang dibalut sebagai gurauan.

BACA JUGA:

Kasus gurauan soal bom terjadi lagi seminggu kemudian (12/5/2018). Saat itu pelakunya adalah seorang lelaki, penumpang pesawat Lion Air JT 168.

Rabu (16/5/2018) seorang penumpang Lion Air JT 291 mengaku sebagai teroris dan membawa bom ke dalam kabin pesawat. Lagi-lagi, itu adalah informasi palsu.

Seminggu setelah kasus di Pekanbaru itu, hal serupa terjadi di Banyuwangi. Pelaku kasus informasi palsu itu adalah dua orang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Banyuwangi.

Sehari sebelum peristiwa di Bandara Internasional Supadio Pontianak, penerbangan Lion Air JT 280 yang akan terbang dari Cengkareng ke Kuala Lumpur terpaksa mengganti pesawat. Hal itu dipicu oleh informasi palsu dari seorang penumpang yang mengatakan bahwa ada bom di dalam pesawat.

Itu semua berlangsung pada bulan Mei. Jumlah kasus serupa akan bertambah lagi jika menghitung kejadian-kejadian pada bulan-bulan dan tahun–tahun sebelumnya.

Kasus-kasus informasi palsu itu berlangsung terus seolah tidak ada cara untuk menghentikannya; seolah kita tak pernah belajar dari pengalaman sebelumnya. Kita seperti berada di tengah masyarakat yang terobsesi dengan bom atau kegentingan di dalam pesawat. Mengapa bisa begitu?

Sejumlah kasus informasi palsu tentang bom di pesawat itu berawal dari awak kabin yang menanyakan isi tentengan penumpang. Sekalipun pertanyaan itu bernada curiga, mengapa penumpang merasa perlu menyatakan kekesalannya dengan berbohong bahwa jinjingannya berisikan bom?

Kasus-kasus informasi palsu itu menandakan bahwa masih ada sebagian masyarakat kita yang tidak memiliki sensitivitas yang memadai terhadap urusan keselamatan dan keamanan. Bahkan boleh jadi tak sedikit orang yang tak tahu bahwa prosedur keselamatan dan keamanan itu dimulai dari informasi yang benar dan jernih.

Kementerian Perhubungan perlu melakukan kampanye yang serius dan terarah terkait hal tersebut agar kasus informasi palsu terkait keamanan dan keselamatan transportasi tidak terulang lagi.

Yang juga penting, tentu saja, adalah penegakan hukum. Sejauh ini publik tidak pernah mendapatkan informasi perihal kelanjutan proses hukum dari kasus-kasus informasi palsu itu. Padahal Undang-undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, dengan jelas, memuat pidana terhadap mereka yang menyampaikan informasi palsu yang membahayakan keselamatan penerbangan.

Menurut Undang-undang tersebut, orang yang menyampaikan informasi palsu tersebut dapat dipidana penjara 1 tahun. Jika mengakibatkan kecelakaan atau kerugian harta, orang tersebut dapat dipidana 8 tahun. Jika mengakibatkan kematian, dapat dipidana 15 tahun penjara.

Para penegak hukum perlu menerapkan ketentuan perundang-undangan ini agar ada efek jera bagi pelakunya, sekaligus menunjukkan bahwa informasi palsu adalah masalah keamanan dan keselamatan serius.

Jangan sampai muncul anggapan bahwa hal itu hanyalah masalah gurauan sepele yang bisa diselesaikan dengan bergurau juga. Jangan sampai.