GoldenLovers, Kekuatan militer Indonesia masih dianggap menjadi nomor satu di Asia Tenggara, satu peringkat di atas Israel. Kekuatan tentara Indonesia itu tergambar dalam indeks kekuatan militer yang disusun Global Firepower (GFP) 2018, situs yang menyediakan analisis kekuatan militer sebagian besar negara di dunia.

Diakses dari situs Global Firepower (GFP) pada Senin (11/6/2018), Indonesia berada di urutan ke-15 dunia dari 136 negara yang disurvei sebagai negara yang mempunyai kekuatan militer. Negara terkuat militernya adalah Amerika Serikat, Rusia, Cina, India, dan Prancis.

Global Firepower menilai kekuatan militer sebuah negara survei ini menggunakan 55 parameter individual. Indikator penilaian antara lain jumlah penduduk, usia warga yang bisa menjadi personel militer, anggaran militer, jumlah peralatan militer, cadangan energi, konsumsi BBM, utang luar negeri, pendapatan per kapita, dan banyak pengukur lainnya.

Kemampuan sebuah negara mengembangkan dan memiliki persenjataan nuklir tidak termasuk unsur penilaian. Semua penilaian GFP itu menunjukkan kemampuan negara jika terjadi perang semesta yang mengerahkan semua kekuatan pertahanan militer dan bukan militer.

Untuk tahun ini, Global Firepower meneliti 138 negara termasuk beberapa negara baru yang tahun lalu belum masuk dalam penilaian yaitu, Irlandia, Montenegro, dan Liberia.

Indonesia berada di urutan ke-15 dunia di bawah Brasil dan setingkat di atas Israel. Posisi Indonesia turun satu peringkat dibandingkan survei 2017. Indonesia masih menjadi negara dengan militer terkuat di Asia Tenggara.

Saat ini, Indonesia memiliki 435 ribu personel militer aktif dan 540 ribu personel cadangan. Selain itu, TNI diperkuat 418 tank, 1.131 kendaraan lapis baja, 456 artileri, dan 153 peluncur roket.

BACA JUGA:

Indonesia, dilansir situs GFP, memiliki 478 pesawat terbang, termasuk 41 jet tempur dan 197 helikopter. Sedangkan kekuatan maritim Indonesia didukung 221 kapal perang yang terdiri atas 8 fregat, 24 korvet, tiga kapal selam, 74 kapal patroli, dan 12 kapal penyapu ranjau.

Menurut situs GFP, pemerintah Indonesia menyediakan anggaran sebesar 6,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp96 triliun.

Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 telah disahkan pada Rabu 25 Oktober 2017. Dalam APBN 2018, Kementerian Pertahanan jadi kementerian dengan pagu anggaran terbesar, yakni sebesar Rp107,7 triliun.

Pada 2017, Kementerian Pertahanan mendapat kucuran Rp108 triliun, alokasi anggaran terbesar dalam belanja Kementerian/Lembaga pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017.

Dana Rp107 triliun terlihat besar, tetapi angka itu menjadi sangat kecil ketika dibandingkan dengan PDB serta kebutuhan tentara di Indonesia. Anggaran Kemenhan itu setara dengan 0,8 persen dari PDB, masih jauh dari standar minimal.

Ketika masa kampanye, Presiden Joko Widodo pernah menyebutkan bahwa anggaran TNI harus mencapai 1,5 persen dari PDB. Indonesia sebagai negara besar seharusnya bisa menganggarkan dana pertahanan sampai 4,5 persen dari PDB atau sekitar Rp300-an triliun.

Anggaran militer Indonesia pun tak akan banyak berubah pada 2019 nanti. Hasil rapat kerja Komisi I DPR RI bidang pertahanan dengan Menteri Pertahanan, Kamis (7/6/2018) menyetujui Kementerian Pertahanan mendapatkan anggaran pagu indikatif sebesar Rp106 triliun.

Dirjen Perencanaan Pertahanan Kemhan, Mars Muda Tata Endrataka mengatakan anggaran yang diterima Kemenhan untuk 2019, turun dari anggaran awal yang diajukan. Menurut Tata sebelumnya anggaran yang diajukan Kemenhan sebesar Rp215 triliun.

"Sekarang ini baru pagu indikatif, kami mendapatkan ajuan dari Rp215 triliun, pagu indikatif turun Rp106 triliun yang disetujui. Tapi masih akan diproses lagi, nanti ada pagu anggaran, ada alokasi anggaran itu nanti prosesnya masih belum sampai sekarang," kata Tata dilansir IDNTimes.

fShare
0