GoldenLovers, Bulan Februari lalu desas-desus tentang serangan sistematis orang yang pura-pura gila terhadap tokoh agama dan aktivis mesjid menyebar begitu cepat, luas, dan masif. Dalam desas-desus itu, orang yang pura-pura gila itu adalah antek Partai Komunis Indonesia (PKI).

Tentu ada banyak faktor yang menjadi penyebab desas-desus itu menjadi membesar. Apapun faktornya, sulitlah untuk mempercayai bahwa hal itu tidak melibatkan tindakan yang terencana dan sistematis.

Informasi yang diproduksi bukan oleh lembaga pers dan beredar di media sosial tentang serangan itu menyertakan foto dan video untuk meyakinkan bahwa desas-desus itu bukan siapan jempol belaka. Padahal tak ada pemberitaan yang terverifikasi tentang kejadian yang disebut sebagai serangan sistematis terhadap tokoh agama.

Pers pernah memberitakan beberapa kejadian kriminal yang korbannya dikenal sebagai guru dan tokoh agama. Namun tidak ada benang merah yang mampu menghubungkan kasus-kasus itu. Kasus-kasus itu adalah kasus-kasus yang berdiri sendiri dan tak saling terkait.

Lebih banyak lagi, seperti diungkapkan Wakapolri Komjen Syafrudin, informasi yang beredar mengenai hal tersebut adalah kabar bohong. Meski sudah menunjukkan sejumlah fakta hasil penyelidikannya, polisi tampak kewalahan untuk meyakinkan sebagian warga masyarakat yang terlanjur termakan desas-desus dan kabar bohong itu

Publik tampak mulai mencoba mengendalikan diri setelah polisi merilis pengakuan beberapa orang -dengan beragam profesi- yang ditangkap secara terpisah di sejumlah daerah atas sangkaan menyebarkan hoax. Seperti dikutip polisi, kebanyakan dari mereka mengaku menyebarkan hoax hanya iseng saja dan agar bersikap waspada.

Namun penangkapan orang-orang yang tampak awam dan tak berjejaring itu masih menyisakan pertanyaan apakah polisi bisa mengungkap pihak yang lebih bertanggung jawab atas berkembangnya desas-desus secara sistematis dalam masyarakat?

Senin (26/2/2018) polisi menangkap 5 orang yang disebut merupakan anggota dari The Family MCA (Muslim Cyber Army) di lima kota yang berbeda: Jakarta, Pangkal Pinang, Bali, Sumedang, Palu. Polisi juga menangkap seorang perempuan anggota kelompok MCA itu di Majalengka. Namun polisi mengaku jumlah anggota MCA yang sudah ditangkap berjumlah 14 orang.

Mereka yang ditangkap oleh polisi itu adalah admin grup. Sedangkan anggota grup itu sendiri, polisi memperkirakan, mencapai ratusan ribu orang.

Bagi pengguna media sosial yang cukup aktif selama masa Pilkada DKI Jakarta, nama MCA tidak terdengar asing. Dari hasil penyelidikannya, polisi mengungkapkan bahwa kelompok ini sangat aktif memproduksi kabar bohong dan provokasi -termasuk tentang kebangkitan PKI dan penyerangan terhadap ulama- serta ujaran kebencian.

BACA JUGA:

Kelompok ini, masih menurut polisi, memiliki hirarki yang bertingkat. Grup United MCA merupakan bagian terendah, dengan anggota terdaftar mencapai mencapai 102.064. Anggota United MCA bertugas menyebarkan konten kepada anggota lain.

Konten itu sendiri dibuat oleh grup Cyber Moeslim Defeat Hoax (CMDH), yang secara hirarki berada di lapis lebih atas dari United MCA. Tidak sembarang orang bia menjadi anggota grup tersebut.

Sejajar dengan CMDH, ada grup yang disebut Team Sniper. Tim ini bertugas untuk menyasar pihak lawan yang akunnya perlu ditutup. Tim inilah yang membuat laporan palsu kepada pengelola platform agar akun target ditutup di platform media sosial tertentu.

Posisi tertinggi dalam hirarki MCA adalah The Family Muslim Cyber Army.

Saat ini polisi masih memburu konseptor MCA. Polisi menyebut sang konseptor itu perempuan berinisial TM.

Atas pengungkapan kelompok tersebut dan penangkapan anggotanya, publik pasti berharap polisi bisa segera membawa kasus ini ke pengadilan agar publik segera mengetahui kebenaran sangkaan kejahatan yang mereka lakukan.

Meskipun salah satu tokoh dalam MCA mengakui perbuatannya dan menyatakan penyesalannya, peradilan atas sangkaan kejahatan yang mereka lakukan tetap harus dilakukan. Keputusan pengadilan itu akan meyakinkan publik apakah benar ada kelompok -yang tanpa empati terhadap korbannya- mau menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.

Pengusutan kasus ini juga jangan sampai berhenti pada 14 anggota MCA yang sudah ditangkap saja. Polisi harus bisa mengungkapkan siapakah yang berada di balik kegiatan kelompok ini. Jika berbagai tindakan MCA itu ditengarai oleh polisi terkait dengan politik -terutama Pemilu, pihak-pihak yang terlibat harus diungkap secara gamblang dan transparan.

Serupa dengan itu, polisi mempunyai "hutang" kepada publik terkait kasus kelompok Saracen yang dibongkar tahun lalu. Dengan sangkaan bahwa, sebagai kelompok penyebar hoax, Saracen menerima bayaran, polisi belum memperlihatkan kepada publik hasil penyelidikan atas pihak-pihak yang memesan dan membayar kelompok Saracen.

Pengungkapan yang tuntas atas kasus-kasus kejahatan semacam ini sangat diperlukan agar tidak ada pihak yang merasa bisa bersembunyi setelah berbuat kejahatan. Bagaimanapun, penyebaran kabar bohong yang meresahkan dan memprovokasi anggota masyarakat untuk saling curiga dan mengobarkan gesekan horizontal harus diperlakukan sebagai kejahatan luar biasa di tanah demokrasi.

fShare
0