GoldenLovers, Alkohol bukan minuman umum nan mudah dikonsumsi di Indonesia. Penjualannya pun terbatas, tidak di semua gerai. Jadi, nilai konsumsinya pun relatif rendah.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2010 menyebutkan konsumsi minuman beralkohol di Indonesia adalah 0,6 liter per kapita per tahun.

Bila dicermati dengan data Survei Sosial dan Ekonomi (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2016, konsumsi minuman beralkohol di Indonesia adalah sekira seperempat liter (253,45 ml) per kapita per tahun.

Jadi, secara umum konsumsi minuman beralkohol di Indonesia masih cukup rendah, bahkan lebih rendah dari perhitungan WHO enam tahun silam. Meski begitu, dalam Susenas BPS, tak ada penjelasan minuman beralkohol jenis apa yang dicatat; apakah minuman keras murni atau bir atau anggur (wine).

BACA JUGA:

Apapun, data itu menunjukkan bahwa minuman alkohol memang tak cukup lumrah dikonsumsi masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Kebetulan Islam menetapkan minuman beralkohol adalah haram dikonsumsi dan beberapa daerah memang melarang penjualan minuman beralkohol.

Susenas BPS tidak menghitung minuman alkohol oplosan, tapi WHO menyertakannya. Menurut WHO, minuman beralkohol oplosan alias ilegal dikonsumsi 0,5 liter per kapita per tahun.

Menurut Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Rofi Uddarojat, konsumsi oplosan yang melebihi konsumsi minuman beralkohol legal disebabkan oleh pendekatan larangan.

Rofi mengatakan bahwa seharusnya pemerintah membasmi atau memberi hukuman lebih tegas kepada produksi ilegal sebelum melarang yang legal. "Kalau pemerintah mau regulasi minuman beralkohol, harusnya melarang dulu yang ilegal bukan yang legal," imbuhnya.

Maklum, konsumsi minuman beralkohol oplosan cukup tinggi lantaran mudah ditemui di berbagai warung pinggir jalan. Selain itu, menurut survei Lakpesdam PWNU DKI Jakarta pada Februari-Maret 2017, harga minuman oplosan relatif murah Rp25 ribu - Rp100 ribu.

Ada pula faktor rasa. "Para responden yang mengonsumsi alkohol oplosan menilai alkohol oplosan rasanya lebih enak dibanding alkohol yang legal," ujar Kepala Departemen Peneliti Lakpesdam PWNU DKI, Abdul Wahid Hasyim.

Di sisi lain, pola konsumsi minuman beralkohol legal tertinggi yang didata BPS menunjukkan daerah dengan jumlah penduduk nonmuslim yang signifikan. Manado di Sulawesi Utara menjadi daerah dengan konsumsi rata-rata tertinggi di Indonesia.

Di Manado, volume konsumsi mencapai 61,41 ml per orang per bulan. Lalu di Denpasar (Bali), volume konsumsi 49,71 ml; lantas di Ambon (Maluku) mencapai 47,40 ml; dan di Medan (Sumatera Utara) hingga 40.97.

Yang mengejutkan adalah Tanjung Pinang di posisi kedua tertinggi (55,20 ml). Padahal demografi masyarakat di kawasan Kepulauan Riau ini didominasi masyarakat muslim.

Minuman beralkohol selama ini dikenal lazim dikonsumsi oleh masyarakat barat. Namun orang Jepang, baik perempuan maupun lelaki, juga akrab pada minuman beralkohol --setidaknya bir.

Di Indonesia, masyarakat lebih akrab pada air putih sebagai air minum dalam mayoritas kesempatan. Itu sebabnya Lokadata Beritagar.id pun membandingkan bagaimana konsumsi air minum dalam kemasan terhadap konsumsi minuman beralkohol.

Medan ternyata punya perbandingan cukup signifikan. Di ibukota Sumatera Utara ini, setiap 100 ml air kemasan yang diminum berarti ada 20 ml minuman beralkohol.

Sementara perbandingan terbesar kedua adalah di kota Tanjung Pinang. Konsumsi air kemasannya mencapai 5,5 persen dibanding konsumsi minuman beralkohol.

Secara rerata nasional per orang, konsumsi air kemasan mencapai 716,6 ml per bulan. Bila hanya menghitung konsumsi air kemasan; Jakarta Pusat, Denpasar, dan Balikpapan masuk tiga besar tertinggi.

Lag-lagi dari data ini, Medan cukup mencolok. Pada konsumsi minuman beralkohol, Medan berada di urutan enam tapi berada di urutan terakhir untuk konsumsi air minum dalam kemasan --bahkan jumlahnya jauh di bawah konsumsi rata-rata per bulan nasional.