GoldenLovers, Hari-hari belakangan ini, kita disuguhi tragedi demi tragedi yang menistakan nilai kemanusiaan ke titik nadir. Belum sepenuhnya reda kecamuk amarah, sesal dan sederet perasaan yang sulit dituturkan dalam bahasa yang sederhana atas kerusuhan berdarah di Rutan Mako Brimob.

Kini kita kembali disuguhi adegan yang memilukan. Aksi bom bunuh diri beruntun menyasar sejumlah tempat di Surabaya. Tiga gereja dan satu markas polisi dihantam bom bunuh diri hanya dalam kurun waktu dua hari.

Tidak butuh hitungan jam dari tragedi bom bunuh diri itu terjadi, linimasa media sosial dan kanal berita TV kita segera dipenuhi oleh gambar dan rekaman mengerikan para korban. Barangkali hanya manusia yang tidak punya nurani yang tidak tercekat melihat pemandangan tragis itu.

Foto dan rekaman jasad-jasad yang tergeletak tersaji di ruang privat kita seperti orkestra kekerasan yang meneror mental. Di zaman ketika media sosial telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan sebagian manusia, sebuah peristiwa memungkinkan untuk direspons oleh publik secara langsung.

Menarik untuk menelaah respons publik-–utamanya, pengguna media sosial--atas aksi teror beruntun di Surabaya. Beragam respons publik warganet itu secara tidak langsung menunjukkan sikap mereka atas fenomena radikalisme. Dari pembacaan itu kita dapat melihat bagaimana ideologi radikal berkembang dan mendapat justifikasinya di ruang publik kita.

Nalar Apologetisme-Oportunisme

Amatan sederhana menunjukkan bahwa reaksi publik atas aksi teror di Surabaya tempo hari dapat dipetakan ke dalam setidaknya tiga corak.

Pertama, sikap warganet yang mengutuk keras aksi terorisme sebagai sebuah tindakan keji nirkemanusiaan. Kelompok ini, umumnya juga tidak menyangkal bahwa terorisme berhubungan dengan ideologi agama (Islam) yang bercorak fundamentalistis-radikal. Kelompok ini umumnya secara terbuka menunjukkan keberpihakannya pada korban dan menganggap terorisme sebagai kejahatan kemanusiaan.

Kedua, publik yang mengutuk aksi terorisme, namun sembari menyangkal bahwa aksi-aksi teror tersebut berhubungan dengan motif agama. Kelompok ini biasanya berpikir dengan nalar apologetis. Yakni bahwa semua agama--terlebih Islam--tidak mengajarkan kekerasan. Cara berpikir kelompok apologetis cenderung memahami tindakan teror dan ajaran agama secara parsial, terpisah dan berdiri sendiri.

Kelompok ketiga, adalah kelompok yang beranggapan bahwa aksi-aksi teror adalah upaya untuk mendiskreditkan kelompok tertentu. Mereka umumnya akan menyusun beragam teori konspirasi untuk meyakinkan publik bahwa teror bom bunuh diri itu tidak lebih dari sebuah rekayasa.

Kelompok ini umumnya tidak memperlihatkan simpati pada korban aksi teror. Tidak jarang pula, mereka menjadikan peristiwa terorisme sebagai alat untuk mendelegitimasi pemerintah dan aparat hukumnya. Kelompok ini cenderung melihat terorisme dengan logika berpikir oportunistis.

Sikap kelompok apologetis yang berupaya keras menyangkal pengaruh ajaran agama pada aksi-aksi terorisme tentu sangat problematik. Mereka seolah-olah menutup mata akan adanya hubungan yang erat antara ajaran agama dengan berbagai macam aksi terorisme. Upaya penyangkalan ini tidak akan membantu upaya-upaya melawan terorisme, alih-alih justru mereduksi persoalan yang sesungguhnya.

Diakui atau tidak, nyaris semua agama memiliki catatan sejarah kelam terkait kekerasan. Bahkan tidak hanya itu, banyak ajaran dalam agama-agama yang secara eksplisit potensial dijadikan dasar untuk melegitimasi tindakan kekerasan.

BACA JUGA:

Mark Juergensmeyer dalam bukunya Terror in the Mind of God: The Global Rise of Religious Violence telah mendokumentasikan data terkait kekerasan dan terorisme yang diinspirasi dan dilegitimasi oleh berbagai agama.

Hal senada dituturkan oleh John Shelby Spong dalam bukunya The Sins of Our Scripture. Menurutnya, kitab-kitab suci dalam rumpun agama samawi (Abrahamic religion) banyak memuat narasi kekerasan, bahkan dalam bentuk yang sangat rinci. Darah, bunuh, sembelih, perang, mati adalah kata-kata yang muncul berulang kali dalam kitab-kitab suci tersebut.

Ajaran agama menurut Spong sarat dengan teks, ajaran, doktrin, diskursus, slogan, jargon dan simbol yang berpotensi mendorong dan menggerakkan penganut hiperfanatiknya untuk berbuat brutal.

Juergensmeyer maupun Spong, tentu tidak sedang membangun satu opini negatif bahwa agama adalah sumber kekerasan. Namun, mengacu pada argumen mereka, kita akan menyadari bahwa argumen kelompok apologetis yang menyangkal adanya hubungan antara terorisme dengan agama adalah nalar pikir yang delusional.

Jauh lebih problematik lagi tentunya adalah sikap para oportunis, yang menjadikan isu terorisme sebagai alat untuk menyerang pemerintah. Alih-alih bersimpati pada para korban, mereka justru sibuk mengarang narasi berbalut teori konspirasi untuk mengaburkan persoalan yang sesungguhnya. Di hadapan para kaum oportunis ini, para teroris mendapat tempat yang mulia, lantaran dianggap sebagai martir, bahkan pahlawan.

Melawan Terorisme

Keberadaan dua kelompok masyarakat yang berkarakter apologetis dan oportunistis inilah yang menjadi lahan subur bagi berkecambahnya paham radikalisme. Kai Hafez dalam buku Radicalism and Political Reform in the Islamic and Western Worlds mengklasifikasikan radikalisme di dunia Islam ke dalam dua corak.

Corak pertama ia menyebutnya dengan istilah hard radicalism, yakni radikalisme yang mewujud dalam aksi-aksi teror dan kekerasan. Para pelaku teror maupun organisasi yang kerap berada di balik teror dan kekerasan atas nama agama merupakan bentuk nyata dari hard radicalism.

Corak kedua ialah soft radicalism, yakni radikalisme yang berwujud gagasan, pemikiran, sikap atau kebijakan yang secara langsung maupun tidak langsung turut andil dalam menyuburkan tindakan teror dan kekerasan. Fatwa-fatwa ulama konservatif yang dalam banyak hal menjustifikasi dan melegitimasi tindakan kekerasan atas nama agama adalah contoh nyata dari soft radicalism.

Dari klasifikasi yang dibuat Hafez tersebut, tidak cukup sulit untuk menyebut kelompok apologetis dan oportunistis sebagai bagian dari apa yang disebutnya sebagai “soft radicalism”.

Mereka, kaum apologetis dan oportunis itu, memang tidak langsung menjadi pelaku tindakan kekerasan dan teror, namun sikap dan pandangannya telah membentuk satu opini yang secara tersirat membenarkan aksi terorisme.

Sebagaimana kejahatan luar biasa pada umumnya, terorisme tidak pernah dilatari oleh faktor tunggal. Dalam kasus yang belakangan ini terjadi di Indonesia, cukup sulit untuk menyangkal adanya hubungan antara agama dan terorisme. Bias tafsir keagamaan yang bercorak konservatif-fundamentalistis itu kemudian berkelindan dengan persoalan ekonomi dan politik.

Terorisme memang harus dibaca dalam kerangka berpikir yang kritis. Namun, memakai analisa yang bersandar pada nalar apologetis apalagi oportunistis adalah sebuah bentuk penyangkalan atas fakta sekaligus manifestasi dari kemalasan berpikir yang akut. Gejala kemalasan berpikir kelompok apologetis-oportunis ini tidak kalah berbahayanya dengan aksi terorisme yang sesungguhnya.

Mengutuk keras terorisme, bersimpati pada korban serta tidak menyangkal adanya pertautan terorisme dengan bias tafsir agama adalah langkah kecil yang bisa kita lakukan untuk melawan terorisme. Sebaliknya, bersikap apologetis apalagi oportunistis hanya akan menjadikan kita sebagai pemandu sorak yang mengobarkan semangat para pelaku teror dari pinggir lapangan.

Mahatma Gandhi pernah berujar bahwa, terrorism and deception are weapons not for the strong, but of the weak. Tujuan teror tidak lain adalah menebar kekacauan dan ketakutan. Tujuan itu berhasil ketika kita hanyut dalam tarikan arus teori konspirasi dan menganggap para pelaku teror sebagai pahlawan.

Nurrochman, mahasiswa Program Doktor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Loading...
loading...
loading...