GoldenLovers, Guns N' Roses telah merilis sebuah video baru. Klip yang diluncurkan melalui layanan Apple iTunes itu merupakan lagu "It's So Easy" yang berada dalam album studio pertama Guns N' Roses yaitu Appetite For Destruction (1987).

Dilansir dari NME (21/5/2018), videoklip tersebut sudah berusia hampir 30 tahun, tapi tidak pernah dirilis. Video ini difilmkan dalam sebuah konser Guns N' Roses di Los Angeles pada 1989. Konser tersebut diselingi beberapa adegan berbau seksual.

Konon, saat itu MTV menolak untuk menayangkan "It's So Easy", sehingga videonya tetap disimpan hingga saat ini.

"Bisa saja kami membuat sebuah video bagus untuk MTV, untuk menjual lebih banyak rekaman," ujar vokalis Axl Rose dalam videoklip tersebut. Rose mengatakan bahwa video "It's So Easy" menghabiskan biaya $150 ribu AS. Pada 1989, jumlah itu kurang lebih senilai $306,876 pada 2018, atau Rp4,36 miliar.

Ia merasa tak masalah mengeluarkan uang sebanyak itu demi sebuah video yang diinginkan oleh Guns N' Roses, bukan pihak lain.

Klip "It's So Easy" merupakan pemanasan untuk rilis ulang album Appetite For Destruction. Harganya mencapai GBP849,99 atau sekitar Rp16,16 juta. Meski relatif mahal, ada berbagai konten baru di dalamnya.

Album yang diluncurkan di pasaran pada 29 Juni ini berisi lima cakram piringan hitam dengan isi 73 lagu, 49 di antaranya merupakan lagu baru.

Seluruh lagu yang berada dalam Appetite For Destruction versi 1989 tetap ada. Album kedua mereka bertajuk Lies (1989) juga diikutsertakan, tapi ada satu yang dihilangkan yaitu "One In A Million".

Penyebabnya adalah lirik yang mengandung kata-kata radikal dan berbau rasial. Ada penggunaan kata-kata kasar yang masuk kategori ujaran kebencian terhadap kaum tertentu, seperti "faggot" (kaum homoseksual) dan "nigger" (ras kulit hitam), serta kalimat yang menyudutkan para imigran.

"Police and niggers, that's right. Get outta my way, don't need to buy none of your gold chains today," isi bait pertama. Kemudian ada refrain, berlanjut pada bait kedua yang berbunyi, "Immigrants and faggots, they make no sense to me. They come to our country and think they'll do as they please. Like start some mini-Iran or spread some fucking disease".

BACA JUGA:

Rose yang menulis lirik itu beralasan bahwa berbagai pengalaman buruk yang ia alami mendorongnya membuat lagu "One In A Million".

"Mengapa orang kulit hitam boleh memanggil sesama kulit hitam dengan sebutan 'nigger', tapi kalau kulit putih yang mengucapkannya tiba-tiba jadi masalah?" ujar Rose dalam sebuah wawancara dengan majalah Rolling Stone pada 1989. "Saya tak suka kalau harus dipaksa apa yang boleh dan tak boleh saya katakan."

Soal homoseksual, Rose mengaku pernah punya pengalaman buruk secara langsung. "Saya sih tidak masalah dengan apa yang mereka lakukan, selama itu tidak menyakiti orang lain dan tidak memaksakannya kepada saya."

Mungkin karena kontroversi ujaran kebencian itu, Lies gagal mengulangi keberhasilan Appetite for Destruction.

Terjual 30,77 juta kopi hingga Maret 2018, Appetite for Destruction merupakan album terlaris band yang berasal dari Los Angeles, California, Amerika Serikat itu. Sementara angka penjualan Lies menurun cukup jauh menjadi 9,94 juta kopi.

Meski begitu, tetap saja Guns N' Roses menjadi salah satu band rock paling terkenal sejagat. Hingga kini mereka sudah menjual lebih dari 100 juta album dari seluruh dunia.

Personelnya berganti-ganti, gitaris Saul "Slash" Hudson sempat keluar pada 1996. Namun Guns N' Roses tetap eksis hingga saat ini. Slash bahkan kembali pada 2016 untuk mengikuti tur Not in This Lifetime yang berlangsung hingga akhir tahun ini.

Jakarta juga kebagian, tepatnya pada 8 November. Tempat konser belum diumumkan, tapi promotor UnUsUaL Entertainment dan TEM menyatakan melalui rilis pers bahwa tiket pra-penjualan akan dijual di situs BookMyShow dengan harga di bawah Rp600 ribu.

fShare
0