GoldenLovers, “Dunia itu seluas langkah kaki. Jelajahilah dan jangan takut melangkah. Hanya dengan itu kita bisa mengerti kehidupan dan menyatu dengan alam” –Soe Hok Gie.

Jika Soe Hok Gie masih hidup sekarang, bisa jadi, dia sangat bangga dengan anda. Anak muda Indonesia yang menyukai pendakian. Naik gunung, mendekat dengan alam, dan mencintai Indonesia.

Buktinya? Banyak pendaki gunung yang mengunggah foto pendakiannya. Mengibarkan bendera merah putih dengan wajah bangganya. Tak lupa caption tulisan tentang rasa cinta pada negeri Indonesia. Bukankah ini yang diinginkan Soe Hok Gie, mencintai Indonesia dengan cara mendaki?

BACA JUGA:

Tapi sayang, pendakian zaman sekarang belum sepenuhnya seperti yang diharapkan Soe Hok Gie. Ada satu bagian yang sepertinya mulai terlupakan. Tentang tujuan pendakian. Tentang alasan kenapa anda naik gunung.

Bagi Soe Hok Gie, naik gunung bukanlah pelarian dari carut marutnya dunia perpolitikan. Naik gunung merupakan bentuk pemberontakan Soe pada kemunafikan dan hipokrisi pemerintahan.

Rasa cinta pada Indonesia tak bisa serta merta muncul dari slogan-slogan, tapi dengan mengenal lebih dekat. Mendaki adalah cara dia untuk lebih mengenal Indonesia dari dekat. Agar lebih mengenal bangsa Indonesia yang sesungguhnya. Rasa cintanya pada Indonesia dalam bentu nyata diwujudkan dengan berinteraksi dengan rakyat.

Soe Hok Gie di Puncak Pangrango, 1967

Semua gagasan tentang tujuan pendakian telah dituliskannya dalam catatan harian Soe Hok Gie yang kemudian dibukukan dalam buku berjudul “Catatan Seorang Demonstran”:

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung“.