GoldenLovers, Apakah Anda pernah secara sengaja membawa pulang pulpen, kertas post it, penjepit kertas, gunting, atau perlengkapan bekerja lainnya dari kantor? Apakah Anda pernah menggunakan print kantor untuk mencetak tiket liburan, tiket konser, atau bahkan surat lamaran ke perusahaan lain? Jika ya, coba simak alasan terpendam Anda melakukan aksi yang disebut dengan istilah hukum “pencurian ringan” tersebut.

Survei terakhir dari Papermate, perusahaan produsen peralatan kerja dan tulis menulis, mengungkapkan 100 persen karyawan mengaku pernah mencuri peralatan kerja dari kantor secara sengaja.

Sebanyak 75 persen mencuri pulpen, 55 persen mencuri pensil, dan 55 persen lainnya mengambil alat penanda halaman dari kantor.

Riset lain yang bertajuk Narcissism and Counterproductive Work Behaviour: Do Bigger Egos Mean Bigger Problems, menuliskan bahwa angka pencurian peralatan kerja di kantor memang tinggi, yakni sekitar 75 persen.

Kerugian yang diderita perusahaan atas pencurian ringan peralatan kerja di kantor ini mencapai ratusan miliar dollar per tahun. Alhasil, terjadilah penyusutan inventoris tahunan sebanyak 35 persen dan menurunkan pendapatan kantor sebanyak 14 persen.

BACA JUGA:

Anda yang pernah melakukan pencurian ringan ini mungkin merasa bahwa hal tersebut hal yang biasa dan normal terjadi. Namun, tahukah Anda bahwa ada latar belakang psikologis yang mendorong Anda melakukannya. Sayang sekali, kebanyakan karyawan tidak menyadari hal tersebut.

Yannick Griep, seorang asisten profesor jurusan industrial dan psikologi organisasi dari University of Calgary di Kanada, mengatakan, pencurian alat kerja yang dilakukan nyaris seluruh karyawan ini dikarenakan rasa dendam dan kekesalan terhadap perusahaan. Namun, karyawan tidak menyadari mereka memiliki perasaan tersebut.

Perusahaan acap kali mengumbar janji manis kepada calon karyawan saat sesi wawancara.

Tak terpenuhinya janji ini, menurut penjelasan Griep, akhirnya membuat karyawan merasa “tak berdosa” ketika mereka menggunakan fasilitas kantor untuk kebutuhan pribadi dan mencuri peralatan kerja.

“Karyawan seperti membenarkan saja tindakannya yang merugikan perusahaan sebagai kompensasi terhadap janji perusahaan yang tak kunjung terpenuhi,” jelas Griep, seperti dinukil BBC.

Janji manis tersebut tak semua tertulis dalam kontrak kerja. Namun, karyawan selalu mengingatnya dan perusahaan sering melupakannya terutama kala sang calon karyawan sudah resmi bekerja.

Jam kerja yang fleksibel, lingkungan yang ramah, dan bonus akhir tahun, merupakan janji-janji yang sering dilupakan oleh kebanyakan perusahaan.

“Janji itu menciptakan ekspektasi pada karyawan. Situasi ini membentuk apa yang disebut psikolog sebagai kontrak psikologis,” imbuhnya.

Selama perusahaan memenuhi janjinya, sebut dia, karyawan pun bekerja dengan kondusif dan bahagia. Selain itu, janji yang terpenuhi juga membuat karyawan loyal pada pekerjaan dan perusahaan.

Griep menuliskan, 55 persen karyawan melaporkan bahwa perusahaan mereka tidak memenuhi janji dalam dua tahun pertama bekerjasama. Lalu, 65 persen mengungkapkan, perusahaan telah melanggar janji saat tahun pertama.

“Individu yang bekerja dengan rasa percaya pada perusahaan biasanya memiliki dorongan untuk memberikan yang terbaik dalam kinerjanya. Reputasi atas janji yang tidak terpenuhi dapat merusak budaya dan suasana kerja,” ujar Pierre Battah, seorang konsultan manajemen sumber daya manusia.

Pencurian ringan yang karyawan lakukan di kantor, kata Griep, meski sebatas peralatan kerja, jika dibiarkan, bisa berkembang menjadi tindakan negatif lain yang merugikan bisnis perusahaan.

Oleh karena itu, dia menganjurkan agar karyawan yang merasa perusahaan belum memenuhi janji pada Anda, sebaiknya membuka komunikasi dan mengingatkan atasan mengenai hal tersebut dengan cara yang sopan serta profesional.