GoldenLovers, Ada orang yang kelewat percaya diri. Dia pikir dia sepintar itu, padahal sebenarnya tidak juga. Ada pula orang yang sebenarnya pintar, tapi rasa percaya dirinya kurang.

Ternyata, orang pertama itu adalah laki-laki, dan orang kedua adalah perempuan. Ini adalah kesimpulan sebuah penelitian.

Perdebatan pengaruh gender terhadap kecerdasan telah berlangsung lama. Meskipun laki-laki telah lebih dulu unggul dari perempuan dalam bidang ilmu pengetahuan, studi telah menemukan bahwa ketertinggalan perempuan dalam bidang STEM (Science Technology, Engineering, and Mathematics) cenderung disebabkan oleh kepercayaan diri dan peluang yang kurang, bukan soal kecerdasan bawaan.

Dan menurut sebuah penelitian terbaru, laki-laki berpikir mereka lebih pintar di kelas daripada perempuan. Ini jadi salah satu faktor yang mendorong majunya prestasi akademis kaum Adam dalam jangka panjang.

Penelitian ini dilakukan oleh para peneliti di Arizona State University School of Life Sciences, dan diterbitkan dalam Advances in Physiology Education awal pekan lalu.

Penulis utama studi, Katelyn Cooper adalah seorang mahasiswa program doktoral di Arizona State University School of Life Sciences. Pekerjaannya sebagai penasihat akademis untuk ratusan siswa menginspirasi penelitian ini.

Cooper dan tim mengumpulkan para siswa yang terdaftar di kelas biologi dengan siswa 250-orang. Mereka ingin mengamati seberapa tinggi para siswa menilai kecerdasan mereka sendiri, dan pada level mana mereka akan membandingkan kecerdasan itu dengan teman sekelas.

Mereka menemukan perempuan punya kecenderungan tinggi untuk meremehkan kecerdasan mereka sendiri daripada siswa laki-laki.

Cooper dan tim juga mencatat, bahkan jika baik siswa perempuan maupun siswa laki-laki memiliki IPK 3,3, siswa laki-laki cenderung memperkirakan dia lebih cerdas daripada dua pertiga isi kelas. Sementara siswa perempuan tidak sepercaya diri itu.

Mereka cenderung memperkirakan diri lebih pintar dari setengah siswa lain dalam kelas. Ketika membandingkan diri dengan, katakanlah, rekan laboratorium atau teman belajar, laki-laki punya kecenderungan 3,2 kali lebih tinggi dibandingkan perempuan untuk mengatakan bahwa mereka lebih pintar daripada orang yang bekerja dengan mereka. Bahkan dari perempuan yang nilainya menunjukkan mereka sama cerdasnya.

BACA JUGA:

Penelitian sebelum ini telah menemukan bahwa laki-laki menganggap siswa laki-laki lebih pintar daripada siswa perempuan. Salah satunya dari University of Washington yang mencatat bahwa seorang siswa laki-laki punya kemungkinan yang sama untuk mencalonkan seorang siswa perempuan dengan IPK 3,75 dan seorang siswa laki-laki dengan IPK 3,0 sebagai siswa terpandai di kelas.

Studi-studi tersebut, ditambah dengan yang terbaru dan lainnya menunjukkan adanya kesenjangan kepercayaan diri yang serius antara laki-laki dan perempuan. Ini dapat menjelaskan mengapa perempuan berjuang lebih keras untuk menjadi sukses dalam karier akademis mereka, dan di dunia kerja.

"Selagi kita bertransisi mengubah kuliah jadi kelas pembelajaran aktif di mana siswa berinteraksi lebih dekat satu sama lain, kita perlu mempertimbangkan bahwa ini mungkin memengaruhi perasaan siswa tentang diri mereka dan kemampuan akademik mereka," papar Sara Brownell, penulis senior studi dan asisten profesor di Arizona State.

Sambung Brownell, "Ketika siswa bekerja sama, mereka akan membandingkan diri satu sama lain. Studi ini menunjukkan bahwa perempuan secara tidak proporsional berpikir bahwa mereka tidak sebaik siswa lain, jadi ini adalah hasil yang mengkhawatirkan dari meningkatnya interaksi di antara para siswa."

Soal mengapa laki-laki berpikir mereka lebih pintar dari yang sebenarnya, sementara perempuan mempertanyakan kecerdasan mereka, ini mungkin berawal pada representasi sehari-hari.

Jika diperhatikan, bidang-bidang seperti sains dan matematika cenderung dikuasai oleh laki-laki. Ketika di sekolah dan perguruan tinggi kebanyakan pengajar adalah laki-laki, tak heran jika Anda berpikir bahwa memang begitulah adanya, laki-laki jadi yang lebih baik di bidang akademis.

Ini berlaku dalam berbagai subjek. Mulai dari ilmu pasti hingga sejarah, sastra, dan seni.

Ketika atasan di perusahaan pada umumnya laki-laki, Anda cenderung terbiasa melihat mereka dalam posisi berkuasa, dan oleh karenanya dikondisikan untuk berpikir bahwa memang di situlah tempat mereka.

"Ini bukan masalah yang mudah untuk dipecahkan. Sebab ini sudah jadi pola pikir yang mengakar pada pelajar perempuan sejak mereka memulai perjalanan akademis," ujar Cooper.

Namun, kata Cooper, kita dapat mulai membentuk kelompok kerja untuk memastikan aspirasi semua orang didengar.