GoldenLovers, Meghan Markle menutup akun media sosialnya, termasuk Twitter, Facebook dan Instagram. Pada bulan Desember 2017, Meghan telah memiliki 1,9 juta pengikut di Instagram, 350 ribu pengikut di Twitter, dan halaman Facebook-nya mendapat 800 ribu tanda suka (like).

Tunangan Pangeran Harry ini pun berterima kasih kepada semua orang yang telah mengikutinya di media sosial selama ini. Meghan bukanlah sosok populer pertama yang berhenti jadi pengguna media sosial. Sebelumnya, model Kendal Jenner pun pernah menghapus akun Instagramnya.

"Saya hanya ingin sedikit istirahat, saya bangun di pagi hari dan melihatnya (media sosial) sebagai hal pertama, saya akan tidur dan itu adalah hal terakhir yang saya lihat," ungkapnya. "Saya merasa sedikit terlalu bergantung padanya sehingga saya ingin mengambil satu menit."

Penyanyi Ed Sheeran juga pernah melakukan hal yang sama. Pada bulan Desember 2015, Ed mengumumkan bahwa dia akan beristirahat dari media sosial.

"Saya mengalami perjalanan yang menakjubkan selama lima tahun terakhir ini, tapi saya mendapati diri saya melihat dunia melalui layar dan bukan mata saya, jadi saya mengambil kesempatan ini untuk tidak berada di tempat lain atau melakukan apapun untuk bepergian ke dunia dan lihat semua yang saya rindukan," tulisnya di Facebook.

Di Indonesia, selebritas Sarah Sechan juga pamit dari media sosial tahun 2017. Sarah mengungkapkan alasan mengapa ia menutup semua akun media sosial, salah satunya karena ingin memulai hidup dan menikmati setiap momen dalam hidup tanpa sibuk memikirkan pendapat dan persetujuan dari orang lain.

Bila Anda termasuk pengguna aktif media sosial, mungkin bertanya-tanya, seperti apa rasanya hidup setelah menutup akses ke dunia maya tersebut? Saat ini, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari bangun tidur sampai jelang tidur, tak henti-hentinya mata menatap layar ponsel. Kehidupan di media sosial juga sering kali dipandang sebagai kehidupan nyata.

Padahal seberapa banyak pengikut di media sosial belum tentu orang tersebut punya banyak teman di dunia nyata. Ketika seseorang memiliki banyak pengikut di media sosial pun, akan menimbulkan keresahan, seperti ketakutan membuat kesalahan yang akan menyebabkan kemarahan.

Pada tahun 2012, studi oleh Anxiety UK menemukan bahwa 45 persen orang yang tidak dapat mengakses jaringan sosial mereka akan merasa khawatir atau tidak nyaman. 60 persen dari responden mengatakan bahwa mereka merasa perlu untuk benar-benar mematikan ponsel dan komputer mereka agar dapat beristirahat dengan benar.

"Hal tentang media sosial adalah bahwa hal itu terus-menerus menyela aktivitas kita," kata Joanne Cantor, PhD, profesor emerita komunikasi di University of Wisconsin-Madison dan penulis buku Conquer CyberOverload, kepada Reader's Digest.

BACA JUGA:

Lanjutnya, "Ketika kita berhenti sejenak untuk menengok akun media sosial berkali-kali, ini benar-benar jadi bentuk multitasking, dan multitasking membuat apa pun yang Anda lakukan jadi butuh waktu lebih lama..."

American Psychological Association memperkirakan bahwa mencoba bermulti aksi, seperti bolak-balik melihat Facebook dan mengerjakan tugas penting, dapat mengurangi waktu produktif Anda sebanyak 40 persen.

Menurut Joanne, dengan melepaskan media sosial sepenuhnya, Anda melepaskan diri dari notifikasi media sosial yang mengganggu, dan membiarkan kreativitas berkembang. Media sosial memang mudah diakses kapan dan di mana saja. Bahkan sebagian orang merasa harus memberikan perhatian 24 jam sehari 7 hari sepekan terhadap apa yang sedang terjadi di media sosial.

Saat membagikan informasi di media sosial, orang cenderung hanya fokus pada hal-hal bahagia dari kehidupannya. Ini mungkin tampak tidak berbahaya, tapi ketika seseorang melihat unggahan orang lain yang kelihatan indah dan menyenangkan, akan mudah untuk membandingkannya dengan diri sendiri.

Di satu sisi, media sosial juga bisa jadi cara untuk tetap terhubung dengan teman lama atau keluarga yang lokasinya berjauhan dari Anda. Namun, tak bisa dimungkiri bahwa hubungan di dunia nyata tentu akan lebih kuat.

"Menarik kembali media sosial dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk berinteraksi tatap muka benar-benar membantu hubungan Anda, dan hubungan benar-benar merupakan salah satu faktor terpenting dalam kesejahteraan dan kesehatan mental," pungkas Joanne.