GoldenLovers, Maraknya pemberitaan terkait rangkaian aksi teror yang terjadi di Tanah Air belakangan ini mengundang sejumlah pakar untuk angkat suara. Mereka sama-sama menegaskan dampak yang bisa ditimbulkan media terhadap persepsi dan sikap publik.

Dampak yang dimaksud, menurut para ahli, merupakan propaganda serta bagian dari tujuan terorisme, yakni untuk menciptakan bencana dan perpecahan, juga kepanikan serta trauma pada korban dan penduduk secara luas.

Tri Hadi, psikolog yang tergabung dalam Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) JAYA mengatakan, salah satu dampak utama yang sering muncul dari pemberitaan terkait aksi teror adalah rasa takut yang tergolong ke dalam secondary trauma atau vicarious trauma.

Jenis trauma itu, lanjutnya, menjadikan masyarakat sebagai korban secara tidak langsung. Sebab, karena merasa takut beraktivitas akhirnya banyak orang ketakutan untuk keluar rumah dan beraktivitas.

Bahkan pada anak-anak, psikolog klinis Denrich Suryadi menyebutkan, efek berita terorisme bisa memunculkan trauma yang jauh lebih besar. Pasalnya, anak-anak cenderung menerima informasi apa adanya tanpa menyaring terlebih dulu sehingga lebih mudah terasosiasi.

Ia mencontohkan, anak-anak bisa saja salah menyimpulkan ciri atau identitas seseorang sebagai pelaku teror. Hal yang lebih buruknya adalah mereka bisa saja berperilaku membeda-bedakan agama dan ras.

Oleh karena itu, Dewan pers memperingatkan agar media tidak berlebihan dalam memberitakan aksi terorisme.

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pun menekankan bahwa tindakan terorisme adalah kejahatan berat terhadap kemanusiaan yang ditentang oleh seluruh agama dan tidak boleh dihubungkan dengan streotip agama tertentu.

Sementara itu, kalangan psikolog juga mengingatkan masyarakat untuk membentengi diri dengan selalu mengonfirmasi berita yang didapat dari sumber resmi dan terpercaya. Miliki kendali diri untuk tidak segera menyebarkan berita tertentu yang belum diverifikasi.

Memang, pemberitaan yang disajikan lewat media-media potensial seperti pers, televisi hingga gambar kartun telah diketahui mampu secara langsung memengaruhi dan membentuk opini publik.

Terlebih lagi, Profesor Gary King dari Universitas Albert J. Weatherhead III pernah menyampaikan bahwa di zaman yang bergantung pada publikasi internet dan penyebaran media sosial, pengaruh pemberitaan dari media kecil hingga menengah bisa memberi dampak dramatis pada suatu peristiwa.

Menukil Harvard.edu, simpulan itu didapat King dan tim usai mengadakan studi media acak berskala besar yang pertama dari jenisnya pada 2017.

Ia menemukan bahwa isu-isu terkait publik yang diberitakan tiga media saja, berpotensi meningkatkan pembahasan di media sosial sampai lebih dari 62 persen mengenai peristiwa terkait.

King mengungkapkan bahwa temuannya ini menunjukkan, pengaruh media terhadap publik memang sangat besar. Terutama media sosial.

Argumen King ada benarnya. Hal serupa pun diuraikan oleh seorang ahli komunikasi, Indiwan Seto Wahjuwibowo, berdasarkan penelitian disertasinya yang terangkum dalam buku berjudul Terorisme dalam Pemberitaan Media: Analisis Wacana Terorisme Indonesia.

Kepada Bisnis.com, ia mengutarakan pendapat bahwa media sosial merupakan alternatif paling logis untuk dipakai oleh kelompok terorisme di Indonesia sebagai cara memperoleh dukungan. Pasalnya, pergerakan teroris yang sembunyi-sembunyi tidak memungkinkan penggunaan media mainstream yang lebih berpihak pada pemberantasan teroris.

BACA JUGA:

Pertanyaannya, bagaimana suatu pemberitaan bisa menciptakan dampak sedemikian masif terhadap opini dan perilaku publik?

Dalam studi media, mengutip situs University of twente, ada teori terkenal yang disebut hypodermic needle theory atau teori jarum suntik. Teori yang bernama lain Bullet Theory atau teori peluru ini menyiratkan bahwa media memiliki efek langsung, cepat, dan kuat pada publik.

Contoh klasik penerapan teori tersebut terjadi pada 30 Oktober 1938. Kala itu, siaran radio berjudul War of the Worlds karya H.G. Wells untuk pertama kalinya disela program berita tentang invasi Mars.

Dalam sekejap, publik percaya bahwa alien betul-betul menyambangi Bumi. Masyarakat pun mulai menjarah toko, meninggalkan rumah dan mencari perlindungan ke tempat aman, sekaligus menciptakan kekacauan dan bencana masif.

Peristiwa itu mencetak sejarah penyiaran yang dikenal sebagai "Panic Broadcast". Cara kerjanya dengan 'menembak' atau 'menyuntik' langsung suatu pesan pada khalayak yang pasif untuk menciptakan persepsi dan perilaku yang seragam--seperti kepanikan tadi.

Bisa dibilang, khalayak pasif tersebut mudah tertipu atau tidak berdaya memperhitungkan dan menanggulangi dampak dari pemberitaan karena menganggap apapun yang disiarkan oleh media adalah benar.

Namun, teori ini kemudian ditentang pada tahun 40-an. Tepatnya dalam satu studi di AS yang dilakukan selama pemilihan presiden.

Studi itu menemukan, satu berita kampanye ternyata tak terlalu kuat untuk menciptakan dampak seragam bagi seluruh pendengar. Sebab, mayoritas orang boleh jadi tidak tersentuh oleh propaganda.

Dengan kata lain, studi ini membuktikan bahwa tak selamanya audiens adalah masyarakat pasif. Sebaliknya, ada pengaruh yang lebih besar dari media mainstream, yaitu menciptakan interaksi interpersonal layaknya yang kita dapat dari pemberitaan di media sosial.

fShare
0