GoldenLovers, Jonathan Swift, seorang penulis dan satiris Inggris, dalam esai berjudul "Political Lying" yang ditulisnya pada tahun 1710, menyebutkan "Falsehood flies, and the truth comes limping after it" (berita palsu terbang cepat, dan kebenaran tertatih menyusulnya).

Beberapa abad setelahnya, pada tahun 2018 ini, ucapan Swift justru makin terbukti benar. Penyebaran berita bohong ternyata lebih cepat lagi. Kehadiran media sosial membuat berita-berita bohong tersebut menjadi seperti fakta dan menyebar dengan cepat.

Sekarang para ahli mengatakan bahwa mereka telah menemukan bukti kebenaran yang diungkapkan Swift. Sebuah laporan penelitian yang diterbitkan pada Kamis (8/3/2018) menyebutkan bahwa berita palsu menyebar seperti api kebakaran di media sosial, lebih cepat dan bertahan daripada yang sebenarnya.

Di dalam laporan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science, para peneliti menggambarkan sebuah analisis dari sejumlah besar data yang berasal dari Twitter dari tahun 2006 sampai 2017. Melibatkan 125.000 berita, dicuitkan lebih dari 4,5 juta kali oleh lebih dari 3 juta orang, dikategorikan ke dalam berita yang benar atau palsu oleh setidaknya satu dari enam organisasi pengecekan fakta independen.

Hasilnya tidak menyenangkan. "Kebohongan tersebar jauh lebih cepat, lebih jauh, lebih dalam dan lebih luas jangkauannya daripada kebenaran di semua kategori informasi," kata Profesor Sinan Aral dari Massachusetts Institute of Technology yang memimpin penelitian tersebut.

Dikutip dari NBC News, Aral menambahkan bahwa kecepatan penyebaran berita bohong itu lebih terasa ketika menyangkut berita palsu tentang politik, daripada tentang terorisme, bencana alam, ilmu pengetahuian, legenda urban, dan informasi keuangan.

Seberapa jauh penyebaran berita palsu itu? The Guardian, mengutip laporan penelitian tersebut, menyebutkan bahwa ketika kebenaran jarang tersebar sampai ke lebih dari 1.000 orang, 1 persen teratas dari aliran berita palsu secara rutin menyebar ke sekitar 1.000 sampai 100.000 orang.

Dengan kata lain, fakta-fakta seringkali tidak dicuitkan ulang (retweeted), sementara klaim yang "terlalu bagus untuk menjadi kenyataan" tersebar dengan sangat cepat.

Menurut para peneliti, kecepatan penyebaran berita palsu 6 kali lebih cepat daripada berita yang benar dan 20 kali lebih cepat untuk mencapai kedalaman. Artinya, satu berita palsu disebarkan 10 kali dalam 10 detik secara berurutan.

Jadi, misalnya B membaca dan menyebarkan cuitan A, lalu C membaca dan menyebarkan apa yang disebarkan B, begitu seterusnya sampai ke J, atau bahkan Z.

BACA JUGA:

Para ahli juga mengukur reaksi orang-orang terhadap berbagai berita. Profesor Aral mengatakan bahwa berita palsu terasa seperti berita baru, dan orang-orang lebih cenderung untuk berbagi informasi baru.

Kendati para peneliti tidak menyimpulkan bahwa berita barulah yang menyebabkan orang-orang mencuitkan ulang, mereka mengatakan bahwa berita palsu memang cenderung lebih mengejutkan daripada berita yang sebenarnya. Inilah yang membuat berita palsu lebih sering dibagikan.

Jika berita palsu dianggap "lebih baru daripada berita nyata", serta bahwa "berita palsu menyebabkan ketakutan, rasa jijik dan kaget, sementara berita nyata menimbulkan antisipasi, kesedihan, kegembiraan dan kepercayaan," maka dilansir dari Fortune, para ahli menemukan bahwa rasa takut dan kaget menjadi lebih viral daripada kesedihan dan kepercayaan.

Dengan kata lain, berita bohong menyebar cepat karena memenuhi keinginan manusia untuk hal yang baru. Sementara berita yang benar biasanya sama saja, dan berita bohong dapat mengejutkan sekaligus menghibur tanpa batas.

Para peneliti juga menemukan bahwa akun-akun bot di Twitter tidak secara otomatis berpengaruh pada penyebaran berita palsu. Manusia nyatalah yang sebagian besar melakukan hal tersebut.

Sebelum melakukan analisis terhadap cuitan-cuitan di Twitter, para ahli telah menyingkirkan semua bot yang mereka temukan. Namun, bahkan setelah mereka kembali menambahkan bot ke dalam analisis, kesimpulannya tetap sama.

Berita palsu menyebar lebih jauh, lebih cepat, lebih dalam dan lebih luas daripada berita benar, karena manusia yang menyebarkannya, bukan robot.

Dalam wawancara dengan BBC, Profesor Geoffrey Beattie, seorang psikolog dari Edge Hill University di Lancashire, mengatakan bahwa orang-orang cenderung ingin cepat memberikan informasi yang belum pernah diketahui orang lain, terlepas dari apakah informasi tersebut benar atau tidak.

Profesor Beattie membandingkan dengan gosip. Penyebaran berita palsu mirip dengan berbagi gosip.

"Orang ingin berbagi informasi apa yang dianggap layak diberitakan, walau kebenarannya tidak dipertimbangkan," jelasnya. "Seperti gosip. Semakin panas, gosip semakin banyak dibahas. Dan hal terakhir yang dikhawatirkan oleh masyarakat adalah apakah hal itu benar atau tidak, masuk akal atau tidak."

fShare
0