Ramai diberitakan kabar Kepala RSPAD Mayjen TNI dr Terawan Agus Putranto, diberhentikan oleh IDI dengan alasan etik. Metode “cuci otak”nya dipermasalahkan, padahal dengan itu dia telah menolong baik mencegah maupun mengobati puluhan ribu orang penderita stroke. Saya sendiri termasuk yang merasakan manfaatnya, juga Pak Tri Sutrisno, SBY, AM Hendropriyono, dan banyak tokoh/pejabat, juga masyarakat luas. Mudah menemukan testimoni orang yang tertolong oleh dr Terawan.

-Aburizal Bakrie di Instagram

GoldenLovers, Begitu potongan testimoni Aburizal Bakrie yang ia unggah dalam Instagram. Unggahan tersebut terkait dengan berita dipecat sementaranya dokter Spesialis Radiologi RSPAD Gatot Subroto, Mayjen TNI Dr.dr.Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (K) oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Dokter Terawan dikenal atas terapi cuci otak yang ia lakukan untuk pengobatan strok.

Terawan mempraktikkan terapi ini sejak 2005. Dilansir dari VIVA (3/4), metode dokter Terawan sudah meringankan hingga menyembuhkan 40 ribu penderita strok. Bahkan metode tersebut telah dipatenkan di Jerman dengan nama Terawan Theory.

Dari dalam negeri, inovasi dokter Terawan juga telah mendapatkan sejumlah penghargaan. Di antaranya penghargaan Hendropriyono Strategic Consulting (HSC) dan dua rekor MURI sekaligus sebagai penemu terapi cuci otak dan penerapan program Digital Subtraction Angiogram (DSA) terbanyak, serta Penghargaan Achmad Bakrie XV.

Sederhananya, strok terjadi karena penyumbatan pembuluh darah di area otak biasanya disebabkan oleh lemak. Hal ini mengakibatkan aliran darah jadi macet dan saraf tubuh tak bisa bekerja dengan baik.

Akibatnya penderita tidak bisa menggerakkan tangan, kaki, bibir, atau anggota tubuh lainnya. Inilah yang menjadi alasan aksi cuci otak dibutuhkan.

Terawan menerapkan metode radiologi intervensi dengan memodifikasi DSA. Sebuah teknik melancarkan pembuluh darah otak yang sudah ada sejak tahun 90-an. Modifikasi ini bertujuan mengurangi paparan radiasi.

"Jumlah radiasi di ruang tindakan yang mengenai pasien dapat diredam hingga 1/40 dari jumlah radiasi biasa yang dilakukan di luar negeri. Tekniknya hanya memasukkan kateter ke dalam pembuluh darah melalui pangkal paha," dia memaparkannya kepada VIVA pada 2013 lalu.

BACA JUGA:

Terapi cuci otak yang dilakukan menggunakan obat heparin untuk menghancurkan plak tersebut. Cairan heparin memberi pengaruh terhadap pembuluh darah sebagai antikoagulan (anti-pembekuan darah), agen anti-inflamasi, dan anti-oksidan.

Heparin dimasukkan lewat kateter yang dipasang di pangkal paha pasien, menuju sumber kerusakan pembuluh darah penyebab strok di otak.

Untuk menguji metode cuci otaknya, dia meneliti 75 pasien strok iskemik yang berobat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Pasien didominasi oleh laki-laki dengan rentang usia 41-60 tahun.

"Berdasarkan penelitian, diasumsikan bahwa 73,3 persen pasien berada pada usia produktif. Strok mengganggu kegiatan sosial maupun ekonomi mereka," kata Terawan dikutip dari Koran Tempo (h/t Tempo.co).

Hasil penelitian menunjukkan, cuci otak memberikan peningkatan aliran darah yang signifikan, sekitar 41,20 persen.

Sebelum menemukan metode ini, sejak 2003 Terawan telah melakukan berbagai tindakan medis untuk pengobatan penderita stroke akut. Beberapa cara di antaranya adalah transcranial LED atau pemasangan balon di jaringan otak.

Hasilnya, pemasangan balon ini meningkatkan aliran darah sebesar 20 persen dalam jangka waktu 73 hari. Terawan mengatakan metode ini ditunjang oleh pemberian terapi sebanyak 146 seri untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

Sebagai alternatif, dia juga menggunakan metode pemberian obat penurun kolesterol (statin). Tapi statin tidak mempengaruhi aliran darah seketika pasca-iskemia. Respons metode ini baru terlihat setelah 5 hari.

Meski dianggap telah menemukan solusi terbaik, Terawan dianggap melakukan pelanggaran. Tribunnews menuliskan, keputusan pemecatan sementara selama setahun diambil setelah sidang Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK). IDI menilai Terawan melakukan pelanggaran etika kedokteran.

Berdasarkan pada putusan sidang MKEK, pelanggaran kode etik yang dimaksud adalah mengiklankan diri secara berlebihan dengan klaim tindakan untuk pengobatan dan pencegahan, tidak kooperatif terhadap undangan Divisi Pembinaan MKEK PB IDI, dan perihal biaya besar atas tindakan yang belum ada bukti -- juga menjanjikan kesembuhan.

Sebagai catatan, biayanya terapi cuci otak memang tidak murah. Paling murah sekitar Rp30 juta per pasien.

Secara informal Terawan juga bersalah karena ia dianggap bekerja di luar wewenang. Terawan merupakan seorang dokter radiologi, sementara tindakan medis yang dilakukannya seharusnya merupakan wilayah dokter ahli saraf.

Penggunaan heparin turut menjadi kontroversi karena sudah lama zat ini diminta untuk tidak digunakan karena akan memberi dampak secara klinis. Menurut Terawan, heparin sebetulnya masih terus dipakai untuk bidang intervensi dengan dosis yang bervariasi.

Banyak literatur yang menjelaskan bahwa heparin sangat aman bila diberikan dalam dosis yang tepat. "Dalam penelitian ini tidak ada pasien yang mengeluhkan adanya efek samping," ujarnya.

Dia mengatakan bersedia memperdebatkan metode cuci otak ini di forum ilmiah dan tidak menyangkal bahwa temuannya tersebut masih perlu melalui sejumlah tahap penelitian yang ditentukan untuk mendapat pengakuan dunia.