GoldenLovers, Google terkenal punya cara unik dalam merekrut kandidat berkualitas sekaligus mengoptimalkan kinerja karyawannya. Bahkan, teknik perekrutan Google merupakan salah satu yang paling ditiru di dunia kerja.

Kini, Google kembali membuat terobosan dengan meluncurkan program edukasi daring guna mempersiapkan masyarakat awam agar mampu berkarier di bidang teknologi.

Menukil Quartz, program yang disebut Google IT Support Professional Certificate itu merupakan program sertifikat bersubsidi dari Google untuk mendukung laju perkembangan dan perubahan teknologi.

Alih-alih mengadakan program pelatihan bagi karyawan, Google justru mengadakan kursus daring dan menawarkan beasiswa kepada lebih dari 10.000 orang di Amerika Serikat. Mereka yang ikut serta tidak harus memiliki pengalaman teknis di bidang IT. Pun tanpa memerlukan gelar sarjana--SMA atau di bawahnya boleh ikut serta.

Bisa dibilang, Google menciptakan strategi perekrutan gaya baru untuk mengatasi persoalan umum di mana perusahaan menginginkan kandidat menunjukkan keterampilannya, tapi terkendala sulitnya calon potensial untuk mengembangkan keahlian itu kecuali setelah bekerja.

Artinya, bukan cuma membuka peluang baru bagi para pencari kerja pemula untuk berkecimpung di dunia IT, tapi juga memudahkan perusahaan teknologi mana pun--terlebih yang bonafit--untuk mempekerjakan kandidat terbaik berdasarkan lulusan kursus terbaik.

Coursera, situs belajar daring yang pertama kalinya digaet Google untuk bekerja sama menjalankan program ini mengatakan biaya standar kursus bersertifikat sekitar 400 sampai 600 Dolar AS per orang.

Setelah disubsidi Google, angkanya menjadi 49 Dolar AS per bulan. Khusus untuk yang memenuhi syarat, beasiswa penuh juga tersedia.

Kursus dimulai pada 20 Februari, 8-10 jam seminggu. Mereka diperkirakan siap kerja sekitar 8-12 bulan setelahnya.

Kurikulumnya mencakup 64 jam pelajaran video, panduan 'soft skill' dan penilaian interaktif yang seluruhnya dikembangkan Google. Intinya mempelajari dasar-dasar IT mulai dari pemecahan masalah dan layanan pelanggan, jaringan, sistem operasi, hingga keamanan.

Pertanyaannya, apakah Google akan merugi, dengan kemungkinan para penerima sertifikat terbaik bisa saja direkrut perusahaan lain? Terlebih lagi, apakah cara ini efektif untuk menemukan kandidat berkualitas, mengingat perekrutan berasal dari masyarakat awam?

Terkait kerugian, tampaknya tidak. Program tersebut merupakan bagian dari Grow with Google, inisiatif Google untuk membantu orang mendapatkan keterampilan yang dibutuhkan dalam mencari kerja di masa depan.

Inisiatif tersebut terlahir dari prediksi bahwa dunia mungkin akan maju secara teknologi, tetapi talenta bakatnya tidak.

Survei menyebutkan sekitar separuh dewasa muda berusia 18-25 tahun percaya pendidikan mereka telah cukup memberi keterampilan yang dibutuhkan untuk memasuki dunia kerja. Padahal nyatanya, sepertiga pekerjaan pada 2020 akan memerlukan keterampilan yang tidak umum.

Mengutip keterangan CEO Google Sundar Pichai, saat ini ada 150.000 posisi terbuka untuk IT di Amerika Serikat dan diprediksi bakal bertambah dibanding lahan pekerjaan lainnya sampai tahun 2026.

BACA JUGA:

Untuk itu, program baru tersebut tentu sejalan dengan harapan Google dalam mengedukasi masyarakat agar dapat berkontribusi mendukung laju teknologi melalui perusahaan-perusahaan terkait.

Menyoal efektivitasnya pun tak ada masalah.

Menurut pimpinan produk Google Natalie Van Kleef Conley yang pernah memimpin program IT internal selama bertahun-tahun, adalah hal yang sangat menantang untuk merekrut karyawan berkualitas.

"Namun saya tahu bahwa kandidat tidak memerlukan gelar tradisional sarjana empat tahun untuk memenuhi syarat--dan juga menemukan bahwa IT sangat mungkin dipelajari," ujarnya.

Google juga punya alasan mengapa gelar dan pendidikan formal tak bisa menentukan kualitas karyawan.

Merunut sekilas sejarahnya, mengutip Washingtonpost.com, dulu Google didirikan oleh dua ilmuwan komputer brilian, Sergey Brin dan Larry Page.

Mereka berkeyakinan bahwa hanya teknolog yang bisa memahami teknologi, sehingga merekrut karyawan berdasar pendekatan STEM--sains, teknologi, teknik dan matematika--dan algoritma--lulusan ilmu komputer nilai tertinggi dari universitas sains elit--.

Laszlo Bock, yang mulai bergabung dengan sejak 2006-2016 sebagai petinggi Google, menjadi orang paling berpengaruh dalam mengubah budaya angkatan kerja Google, dari kekakuan menuju perusahaan dengan karyawan paling bahagia di AS.

Pada 2013, Google menguji ulang sistem perekrutannya dan menemukan banyak 'kesalahan'. Dari delapan kualitas teratas karyawan terbaik Google, keahlian STEM menduduki peringkat terakhir.

Sementara tujuh di antaranya adalah soft skill. Yakni pelatih yang baik; berkomunikasi dan mendengarkan dengan baik; memiliki wawasan tentang orang lain (termasuk nilai dan sudut pandang berbeda); berempati dan sportif; pemikir kritis serta pemecah masalah; dan mampu membuat hubungan dalam berbagai ide rumit.

Sejak itulah, Google dengan sederet uji coba dan segala macam teknik perekrutannya ikut membuka mata dunia, bahwa keahlian terpenting dalam kemajuan teknologi adalah kemampuan belajar berlandaskan kemanusiaan, budaya, sosial, serta komputasi.

Tak ketinggalan, Google juga mengenalkan metode microlearning. Sederhananya, belajar secara rutin meski singkat, masih lebih baik ketimbang mendalami sesuatu tapi sesekali. Contohnya pelatihan karyawan, yang dianggap boros waktu dan uang serta terbukti tidak efektif.

Survei membuktikan 90 persen yang dipelajari di pelatihan tidak dipertahankan. Bukan karena informasinya tidak berguna, melainkan sulit bagi karyawan menempatkannya dalam pekerjaan keseharian. Apalagi orang mudah lupa.

Itulah mengapa, cara unik Google merekrut karyawan berkualitas layak diadaptasi.