GoldenLovers, Para peneliti sebelumnya telah mengetahui bahwa hubungan antara dua area otak manusia, amigdala dan medial prefrontal cortex (mPFC), dalam pengembangan gangguan emosi dan suasana hati seperti depresi dan kecemasan.

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa sistem otak tersebut ternyata memainkan peran terhadap kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan yang terkait dengan risiko ekonomi dan finansial.

Dalam sebuah makalah yang diterbitkan di Neuron pada 5 April 2018, para ilmuwan di University of Pennsylvania, Amerika Serikat, menemukan bahwa hubungan struktural dan fungsional antara amigdala dan mPFC terkait dengan perbedaan individu dalam tingkat seseorang mengambil risiko untuk mencapai pengembalian finansial yang lebih besar.

Hasil penemuan tersebut berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Joseph Kable, seorang peneliti dari Departemen Psikologi di Perelman School of Medicine di University of Pennsylvania, AS, dan rekan penulis, yang merekrut 108 orang berusia 18 hingga 35 tahun yang berada dalam kondisi sehat.

Penelitian ini berkonsentrasi pada pemahaman mengapa ada orang bertindak dengan cara yang bisa merugikan diri mereka. Lalu, peneliti juga mempelajari apakah layak untuk secara positif membentuk tindakan tersebut.

"Kami menilai toleransi risiko dengan memberi orang kesempatan berjudi," jelas Kable.

"Kami memerhatikan bagaimana orang-orang yang bersedia menerima risiko, meski tidak mendapatkan apa-apa untuk memperoleh jumlah uang yang lebih besar," katanya.

Studi ini mengidentifikasi individu mulai dari yang memiliki sifat menghindari risiko sampai dengan yang mencari risiko.

Para peneliti menempatkan peserta melalui latihan pengambilan keputusan yang cepat. Kemudian, peserta diminta untuk memilih antara menerima hadiah kecil-tapi-pasti senilai 20 dollar AS atau setara dengan Rp300.000,- atau yang lebih besar tapi tentatif, mulai dari 21 hingga 85 dollar AS atau lebih kurang Rp1 juta.

Peserta diberikan kuesioner terperinci yang menampilkan 120 skenario berbeda yang melibatkan kenyamanan mereka dengan pilihan keuangan, masing-masing melibatkan berbagai tingkat risiko dan imbalan.

Peneliti memberikan peserta waktu empat detik untuk memilih antara 100 persen imbalan uang yang lebih kecil tapi pasti atau kemungkinan menerima hadiah yang lebih besar. Tingkat kesempatan untuk skenario yang kedua berubah-ubah, mencapai antara 9 persen hingga 98 persen. (misalnya, 48 persen kemungkinan menerima 80 dollar AS).

BACA JUGA:

Para ilmuwan kemudian menggunakan data hasil penelitian untuk menempatkan individu pada spektrum toleransi risiko yang luas, mulai dari sangat menghindari risiko hingga sangat mencari risiko.

"Kecenderungan pengambilan keputusan peserta adalah indikator yang baik dari toleransi seseorang terhadap risiko, apakah dia seseorang yang menghindari risiko dan mengambil opsi aman atau mencari risiko hingga bersedia mengambil risiko sebanyak yang akan kami berikan untuk mendapatkan hasil lebih tinggi," urainya.

Pada kesempatan terpisah, penelitian dengan menggunakan MRI dan diffusion tensor imaging (DTI), para peneliti mengukur hubungan struktural dan fungsional antara berbagai bagian otak peserta yang menggunakan sistem amigdala/mPFC.

Mereka juga mengukur ukuran amigdala, termasuk volume materi abu-abu dan materi putih di dalamnya. Lalu, untuk membuat penilaian toleransi risiko individu, para ilmuwan mengkorelasikan penilaian mereka terhadap toleransi risiko peserta dengan ukuran konektivitas struktural dan fungsional otak.

"Tiga pengukuran -- koneksi struktural dan fungsional dan volume materi abu-abu amigdala -- saling menguatkan untuk menunjukkan bahwa ada sesuatu yang penting tentang fungsi sistem ini terkait dengan perbedaan kondisi orang yang toleran mengambil risiko," jelasnya.

"Hanya dengan melihat fitur-fitur otak ini, kami bisa memiliki gagasan yang masuk akal, jika Anda adalah seseorang yang akan mengambil banyak risiko atau tidak," imbuhnya.

Peneliti melihat bahwa individu dengan toleransi risiko lebih tinggi memiliki amigdala yang lebih besar (materi lebih abu-abu) dan koneksi yang lebih fungsional antara amigdala dan mPFC yang diukur dengan MRI. Toleransi risiko yang lebih tinggi diidentifikasi pada individu dengan koneksi atau jalur struktural yang lebih sedikit di antara area-area ini, sebagaimana diukur oleh DTI.

Rencananya, para peneliti berencana untuk berkolaborasi dengan organisasi perencanaan keuangan. Tujuannya, untuk melihat bagaimana temuan sistem otak tersebut dapat digunakan sebagai identifikasi terhadap toleransi risiko yang melibatkan keputusan berbasis ekonomi yang lebih besar.

"Mungkin kita bisa mendapatkan penilaian yang lebih baik untuk toleransi risiko ekonomi seseorang untuk memberikan nasihat terbaik bagi individu tertentu," pungkasnya.