GoldenLovers, Kita kenali satu peribahasa lama, "Seperti katak dalam tempurung". Melalui bahasa gaul di media sosial kita melihat roh peribahasa ini masih hidup, dan kini rupanya sudah mengambil bentuk berbeda.

Untuk melihatnya lebih jelas, kita bisa mulai dari kemunculan beberapa kata, seperti sensi atau baper. Ya, yang pertama adalah kependekan dari sensitif. Peka, dalam arti mudah tersinggung. Sedang yang kedua adalah akronim dari bawa perasaan. Artinya sama belaka, peka, sensi.

Di kalangan anak muda yang gemar memakai bahasa gaul, sesiapa yang punya sifat mudah tersinggung sering dijadikan bahan olok-olok. Kepada mereka dikatakan, "Mainmu kurang jauh, pulangmu kurang malam."

Main yang jauh dan sampai malam adalah tanda bahwa sang pelakunya senang bergaul atau punya pergaulan yang luas. Lawan kutu buku (di sekolah) atau anak mami (di rumah). Dapat juga dilawankan dengan katak dalam tempurung, kuper alias kurang pergaulan.

BACA JUGA:

Respons seseorang terhadap aksi orang lain menjadi ukuran kadar kedekatan pertemanan atau hubungan sosial. Kita lihatlah, makin karib pertemanan, makin kasar sekasar-kasarnya umpatan yang bisa bersemburan dari mulut mereka.

Begitulah, kata kunci main kemudian berubah menjadi piknik, dan ungkapan "Mainmu kurang jauh, pulangmu kurang malam" lambat-laun berubah wujud menjadi "kurang piknik". Inilah penciptaan ungkapan segar yang kreatif dan, entah disadari atau tidak, rupanya meneladan pada bentuk yang sudah sangat tua dalam khazanah bahasa Indonesia.

Kurang piknik. Anda ingin menguji seberapa karib pertemanan dengan seseorang? Ujarkanlah ungkapan kurang piknik itu kepada dia pada kesempatan atau sikon yang tepat. Bukan saja anda akan dapati bahwa ungkapan itu bisa untuk menakar seberapa karib pertemanan.

Ia saya kira sekaligus dapat dijadikan semacam petunjuk, apakah iklim pergaulan kita setelah periode yang awut-awutan saat pemilihan gubernur DKI tahun lalu sudah sungguh kembali pulih, normal, waras.

Loading...
loading...
loading...