GoldenLovers, Sedikit cemburu bisa bermanfaat. Namun, jika berlebihan malah berujung petaka, terutama cemburu karena cinta. Persoalan asmara acap kali membuat sebagian orang hilang akal sehat. Apa pasal?

Beberapa waktu lalu, foto lelaki muda yang loncat dari jembatan karena cemburu dengan pasangan mendadak viral di media sosial. Untungnya, si pelaku gagal kehilangan nyawa lantaran dia jatuh di sungai yang dangkal. Namun, aksinya ini dicibir karena dinilai konyol mencoba bunuh diri akibat cemburu.

Sebelumnya, ada rentetan kasus bermotif cemburu yang lebih tragis. Salah satu yang menggegerkan, seorang lelaki pernah bunuh diri dengan menyiarkan kematiannya secara langsung di akun Facebook pribadi.

Rasa cemburu jika tidak dikelola dengan positif, maka bisa membuat orang sampai tega membunuh pasangan atau orang-orang yang dianggap menyulut api kecemburuan.

BACA JUGA:

Psychology Today menulis, setidaknya ada tiga penyebab utama rasa cemburu terpicu sampai dengan melewati batas normal psikologis manusia yang bisa berujung pada tindakan ekstrem membahayakan.

Pertama, ketidakamanan. Ini mengacu pada ego yang melumpuhkan atau perasaan rendah diri. Orang-orang yang cemburu buta merasa tidak percaya diri bahwa dirinya cukup baik dan berharga untuk membuat pasangannya merasa selalu tertarik dengan mereka. Akibatnya, mereka yang merasa keberadaannya terancam, menunjukkan pembelaan dirinya dengan berperilaku agresif atau negatif.

Kedua, kepribadian paranoid. Orang-orang ini bisa sangat sulit memercayai orang lain, kemungkinan besar akibat trauma. Mereka sering kali merasa dirinya sebagai korban yang terpenjara, dianiaya, dan direndahkan. Orang terdekat pun jadi pelampiasan.

Terakhir, pemikiran obsesif. Pemikiran ini merupakan gangguan psikologis, meski tak selalu demikian. Masalah utama alasan ini adalah terus cemas karena penderitanya kesulitan menoleransi ketidakpastian untuk hal-hal yang tidak diketahui.

Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian Psikiatri, dr Nurmiati Amir SpKJ(K), menggambarkan bahwa pemikir obsesif memiliki delusi atau waham.

"Waham itu suatu keyakinan yang salah dan tidak sesuai fakta. Padahal dia cuma menduga-duga dan kekeuh," kata Nurmiati sembari menambahkan bahwa cemburu buta juga bisa muncul karena seseorang tidak mampu mengontrol emosi dan amarah yang berkecamuk di dirinya.

Sementara alasan-alasan itu bisa berterima dari sisi psikologis, rupanya sejumlah ilmuwan di ranah berbeda berpendapat lain.

Pada 2013, untuk pertama kalinya studi yang diadakan oleh peneliti dari Swedia menemukan bahwa alasan untuk cemburu bisa dijelaskan secara genetik. Menurut mereka, setiap orang berpotensi mengembangkan cemburu buta karena DNA yang diwariskan turun-temurun dalam darah manusia sejak zaman purba.

Sebagaimana dijelaskan antropolog sekaligus ahli hubungan asmara kesohor, Helen Fisher, mengatakan bahwa pada dasarnya kecemburuan berevolusi karena alasan positif.

Sejak dulu, cemburu terbukti mampu memperkuat ikatan hubungan, menyatukan keluarga, dan memungkinkan kelangsungan hidup kaum muda.

Sayangnya, seiring perkembangan evolusi banyak manusia yang justru memanfaatkan kecemburuan sebagai alasan untuk berperilaku negatif dalam menunjukkan perasaannya. Hal ini--berdasarkan sifat evolusinya--jelas terlihat pada hewan.

Fisher mengutip satu penelitian primata pertama yang mengungkap bahwa simpanse betina bisa begitu marah dan menampar simpanse jantan secara agresif karena berinteraksi dengan simpanse lain. Sementara penelitian lain menunjukkan bahwa burung pun bisa menyerang saingan dan pasangannya hanya karena cemburu.

Oleh karena itu Fisher menekankan, karena manusia bukan hewan, harusnya analisis aspek evolusioner rasa cemburu yang dirasakan lebih cerdas dan berbeda dengan perilaku cemburu hewan.

Pendek kata, seharusnya manusia tidak perlu menjadikan cemburu sebagai alasan terjadinya kekerasan ataupun sebagai alat mendapatkan kebaikan dengan berlaku tak masuk akal.

Sebab, rasa cemburu bisa sangat merusak jika kita sendiri secara tidak sadar menciptakan masalah yang sebenarnya tidak ada dan tidak perlu disikapi dengan kekerasan.

fShare
0