GoldenLovers, Anda masih ingat dengan istilah WIL/PIL. Namun, sekarang sudah enggak zaman lagi menggunakan istilah tersebut, karena sedang tren istilah baru yaitu "Pelakor" akronim dari perebut laki orang. Istilah yang beberapa tahun belakangan ini sedang marak diperbincangkan di dunia media sosial.

Secara umum istilah pelakor ditujukan kepada perempuan yang merebut suami orang lain. Merebut di sini tidak seperti makna sebenarnya. Merebut bisa bermakna mendekati suami orang, berselingkuh, atau berpacaran dengan suami orang.

Menurut psikolog klinis anak, perkembangan anak, anak berkebutuhan khusus, serta psikologi keluarga, Jovita Maria Ferliana, M. Psi ini hadirnya fenomena pelakor bisa dilihat dari dua kategori besar, yaitu yang "sengaja" dan yang "situasional".

"Dalam kategori yang sengaja atau by purpose, wanita pelakor punya beberapa faktor yang menyebabkan ia menjadi pelakor, antara lain kepribadian yang manipulatif (yang pandai berbohong atau menginginkan sesuatu dengan berbagai caranya agar keinginannya tercapai), punya kepribadian narsistik (mengagungkan dirinya), serta kurang empati sama orang lain (hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak peka)," ujar psikolog yang berpraktik di Rumah Sakit Royal Taruma ini.

BACA JUGA:

Sedangkan menurut Jovita yang situasional (tidak direncanakan) adalah karena faktor ketidaksengajaan. Misalnya karena selalu bersama saat kerja baik di dalam maupun di lapangan maka kedekatan lama-kelamaan bisa terjalin.

"Awalnya si wanita ini tidak punya tujuan untuk jadi pelakor, namun karena ada sisi-sisi ruang yang kurang ia dapatkan di dalam dirinya, misalnya ia kurang kasih sayang, kurang perhatian dari pasangannya sendiri, maka kehadiran rekan kerja atau partnernya ini bisa terjalin dan kedekatan tersebut bisa terjadi, yang akhirnya bisa menjadi palakor juga," ucap Jovita.

Motif Lain dari Pelakor

Menurut Jovita, beberapa motif pelakor ini selain bisa karena dua faktor di atas yaitu sengaja dan yang situasional ada juga karena menginginkan status sosial yang lebih tinggi dari yang sekarang ia jalani. "Bahwa dengan cara menjadi pelakor ini dengan cepat bisa meningkatkan status sosialnya, bisa mendapatkan rumah, mobil, barang-barang mewah, uang, dan lain sebagainya," tutur Jovita.

Lalu, siapa sih sebenarnya yang rentan "dimangsa" oleh pelakor? Menurut Jovita sangat jarang pelakor menginginkan laki-laki yang single. "Ini karena ada anggapan dengan laki-laki yang sudah berkeluarga, berarti laki-laki ini sudah mapan, misalnya sudah punya mobil, rumah, jabatan yang tinggi, dan dari segi finansial mereka para laki-laki yang sudah berkeluarga ini sudah mantap. Untuk itu biasanya pelakor lebih mengincar pada laki-laki yang sudah berumah tangga dibandingkan dengan yang lajang."

Para Pelakor Suka Tantangan

Berkaitan dengan para laki-laki yang sudah berkeluarga ini, menurut Jovita ada juga rasa "menguji andrenalin" di dalam diri si pelakor ini. Kenapa selalu sasaran dia laki-laki yang sudah berkeluarga?

"Biasanya ada sisi kepuasan dari dalam diri si pelakor jika ia bisa mendapatkan suami orang. Walaupun misalnya hubungan yang terjalin antara di pelakor dengan suami orang ini tidak dia inginkan untuk jangka waktu yang lama, namun bisa merebut ini ada perasaan puas "saya bisa mendapatkan", ini menimbulkan persepsi saya lebih dibandingkan istri sahnya dia. Dan para palakor ini bisa merasa bangga karena ia berhasil merebut dan bisa mengambil dari istri sahnya.

Loading...
loading...
loading...