GoldenLovers, Di Indonesia, merebus ulang air matang merupakan hal lazim. Kebanyakan orang memilihnya sebagai cara yang lebih aman untuk menghasilkan air layak minum. Anda bisa mendapati kebiasaan ini di rumah-rumah yang menggunakan air sumur sebagai sumber air utama.

Contoh lain, ketika seseorang yang sedang pelesiran ingin menyeduh minuman hangat. Boleh jadi yang ia pilih adalah merebus ulang air kemasan. Bahkan, tak jarang juga orang merebus ulang air teh dan kopi dalam cerek atau ketel.

Lalu, masalahnya, sempat muncul pernyataan bahwa merebus ulang air matang bisa berbahaya. Salah satunya adalah klaim dari Healthy Holistic Living yang kemudian dikutip beragam media luar negeri maupun Indonesia.

Meski telah diklarifikasi ahli bahwa informasi tersebut tidak benar, rupanya masih banyak orang yang tidak mengetahui betul kebenarannya. Terlebih lagi, belakangan ini penyebaran informasi terkait bahaya tersebut kembali meluas di media sosial.

Apa bahayanya dan bagaimana kebenarannya, mari menyelisik keamanan merebus ulang air matang.

Melansir The Sun, seorang ahli kesehatan menjelaskan bahwa merebus ulang air matang berbahaya karena susunan senyawa alami di dalamnya akan mengalami transformasi kimia.

Perebusan air matang membuat air lebih terkonsentrasi, sehingga menciptakan berbagai gas dan mineral terlarut lain yang lebih beracun seperti arsenik, nitrat dan flourida.

Nitrat bisa berubah menjadi nitrosamin dan karsinogenik yang terkait dengan banyak penyakit seperti leukemia, limfoma non-Hodkin, juga berbagai jenis kanker.

Arsenik yang terakumulasi bisa menyebabkan kanker, penyakit jantung, masalah infertilitas dan neurologis. Sementara peningkatan fluorida bisa merusak perkembangan kognitif dan neurologis anak-anak.

Menanggapi itu, sejumlah ahli mengklarifikasi.

Pertama-tama, yang perlu Anda tahu, klaim terkait bahaya merebus ulang air matang sebetulnya terus muncul selama bertahun-bertahun. Pasalnya, tak pernah ada bukti ilmiah terkait hal ini.

Snopes.com menulis, satu-satunya prinsip ilmiah yang mendasari bahaya tersebut hanyalah konsep penguapan dan konsentrasi. Memang benar bahwa proses pemanasan bisa menimbulkan reaksi kimia dan meningkatkan konsentrasi.

BACA JUGA:

Namun, "Hal tersebut bisa terjadi jika dalam media tersebut telah tersedia beberapa zat yang siap untuk bereaksi," ujar Kepala Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Haryono, kepada Detik.com.

Oleh karena air putih tidak memiliki zat pereaksi, sangat tidak faktual jika ada bahan kimia baru yang bisa muncul setelah air direbus ataupun direbus ulang.

“Kecuali memang sengaja ditambahkan,” imbuhnya.

Kabar baiknya, jika pun ada bahan kimia berbahaya yang memasuki rebusan air putih, maka belum tentu efeknya sedemikian merusak bagi tubuh.

Situs McGill University mencontohkan, jika Anda merebus 1 liter air matang yang telah ditambahkan 1 ppm (bagian per sejuta bagian) fluorida, lalu Anda membuat secangkir kopi dalam gelas belimbing (200 ml) dengan air tersebut, itu berarti Anda akan menelan 0,2 mg fluorida.

Kemudian, jika Anda merebus ulang air tadi dan membuat kopi dalam takaran sama, maka Anda akan menelan 0,22 mg fluorida. Artinya, selain perbedaannya tidak signifikan, menelan zat dalam jumlah tersebut sama sekali tidak berefek di tubuh.

Satu studi tikus menunjukkan bahwa fluorida bisa berisiko bagi sperma jika diberi 100-150 mg (natrium fluorida) dalam air minum selama 8 minggu.

Argumen sama juga berlaku untuk zat terlarut lainnya dalam air.

Untuk arsenik, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyimpulkan bahwa masalah kesehatan kronis bisa terjadi ketika konsentrasi mencapai sekitar 50 mg per liter. Sebelum mencapai batas itu, mungkin Anda sudah menghabiskan seisi teko berisi rebusan ulang air matang tanpa efek samping apapun.

Untuk risiko terkait nitrat, proses pemanasan saja--walau berulang kali--bahkan tidak cukup mengubahnya menjadi nitrosamin. Perlu molekul prekursor spesifik dan kondisi lingkungan tertentu, misal, Anda menggunakan air limbah yang mengandung nitrogen organik tingkat tinggi dan telah didisinfeksi dengan kloramin.

Berdasarkan fakta-fakta itu, para ahli menyimpulkan bahwa tak ada larangan merebus ulang air matang karena tergolong aman.

Anjuran dari Kementerian Kesehatan pun lebih merujuk pada pemilihan air minum yang jernih, tidak berwarna, berasa, dan berbau, serta memiliki komposisi mineral yang cukup.

Kendati demikian, ada syaratnya.

Dr Alvin Wiharja dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menyarankan agar Anda tidak merebus ulang air kemasan menggunakan kemasannya langsung, tetapi dengan memindahkannya dulu ke dalam panci bersih untuk menghindari risiko.

Selain itu, sebaiknya Anda juga tidak merebus ulang air teh atau kopi. Penyebabnya, bukan lantaran bisa menghasilkan bahan beracun.

Namun, seperti dilaporkan The Telegraph, merebus ulang teh dan kopi bisa menguapkan kandungan oksigen dan nitrogen dalam minuman sehingga rasanya cenderung berubah hambar dan tidak segar.

fShare
0