GoldenLovers, Kita semua tahu orang-orang cerdas seperti Bill Gates, Stephen Hawking, atau B.J. Habibie, semuanya mengenakan kacamata. Ternyata, kaitan antara kacamata dan tingkat kecerdasan bukan sekadar mitos belaka. Pasalnya, sebuah studi membuktikan bahwa orang yang tingkat kecerdasannya di atas rata-rata cenderung mengenakan kacamata.

Jika Anda mengira mereka yang cerdas berpenglihatan buruk karena terlalu sering membaca, memicingkan mata, atau belajar di bawah cahaya redup, bisa jadi alasan sebenarnya tak sesederhana itu.

Menukil Science Alert, studi baru yang dipimpin tim peneliti dari University of Edinburgh di Skotlandia mengungkapkan bahwa adanya hubungan genetik antara pakai kacamata dan fungsi kognitif umum --cara kita mendapat informasi seperti mengingat, menalar, dan memperhatikan.

Peneliti menemukan bahwa orang yang lebih cerdas --atau lebih tinggi fungsi kognitifnya--, 28 persen lebih mungkin memiliki gen yang membuat mereka perlu pakai kacamata.

Namun, tidak semua masalah penglihatan selalu menandakan seseorang lebih cerdas. Menurut penelitian yang dilansir Hello Giggles, orang yang mengalami gangguan rabun dekat atau myopia masih lebih cerdas 32 persen ketimbang mereka yang menderita rabun jauh atau hyperopia.

Tak kalah penting, studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications ini juga menemukan korelasi genetik baru antara fungsi kognitif dan berbagai masalah kesehatan, seperti angina (nyeri dada yang disebabkan oleh berkurangnya aliran darah ke jantung), serangan jantung, hipertensi (tekanan darah tinggi), osteoarthritis, hingga kanker paru-paru.

BACA JUGA:

Hasil studi menyebutkan, orang cerdas kurang berisiko mengembangkan masalah kesehatan karena memiliki gen yang mampu meningkatkan kesehatan kardiovaskular. Orang-orang itu bukan hanya 17 persen lebih mungkin untuk hidup lebih lama, tapi juga berkemungkinan kecil mengalami depresi akut. Dengan kata lain, peneliti mengaitkan bahwa otak yang cerdas berhubungan dengan tubuh yang sehat.

Penelitian yang diklaim sebagai studi genetik terbesar ini pada dasarnya dilakukan untuk mengidentifikasi gen yang terkait dengan kecerdasan, sekaligus menyelidiki bagaimana sifat turun-temurun individu memengaruhi fungsi kognitifnya.

Mengutip Ifl Science, peneliti melihat kemungkinan adanya “tumpang tindih genetik”, antara gen yang terkait dengan kecerdasan dan gen terkait kesehatan--terutama dengan menghubungkan kecerdasan dan penglihatan yang buruk.

Dalam tahapan studi, peneliti menyisir informasi dari 300.486 orang berusia 16 hingga 102 tahun di Amerika Utara, Eropa dan Australia yang dikumpulkan dari sejumlah basis data. Informasi tersebut mencakup kiriman sampel DNA, jawaban kuesioner, dan hasil tes kemampuan kognitif umum yang telah dilakukan sebelumnya.

Tak ada peserta yang menderita demensia atau strok. Peneliti menilai tingkat kecerdasan mereka menggunakan hasil tes kognisi, penalaran verbal, dan numerik. Hasil penelitian merupakan kesimpulan dari data penggabungan dari data kognitif dan genetik.

Ketika peneliti menganalisis data genetika, mereka menemukan 148 wilayah genom yang terhubung dengan fungsi kognitif umum, termasuk 58 situs genom terkait kecerdasan yang diidentifikasi untuk pertama kalinya.

Selain itu, mereka juga menemukan 42 lokus genom yang terkait dengan waktu reaksi, 40 di antaranya baru bagi sains.

Peneliti utama studi, Dr Gail Davies, mengatakan kepada The Telegraph bahwa hasil studi ini bisa membantu memahami penurunan fungsi kognitif yang terjadi karena penyakit dan seiring bertambahnya usia. Selain itu, juga memberi wawasan penting soal apa yang membuat seseorang lebih cerdas.

Kendati demikian, Davies juga mengaku pada Newsweek bahwa asosiasi antara kesehatan dan kecerdasan tidak bersifat kausal karena cara yang mereka lakukan untuk mengukur kecerdasan “jauh di bawah standar.”

Hasil penelitian ini belum bisa dinilai akurat. Pasalnya, semua data studi berasal dari turunan Eropa. Artinya, orang-orang dari latar belakang genetik lainnya belum tentu bisa melakukan ekstrapolasi wawasan yang serupa.

Lantas, apakah ini orang yang tidak mengenakan kacamata berarti tidak cerdas? Belum tentu.

Big Think menulis, studi 2010 pernah mengungkapkan bahwa kacamata palsu cenderung membuat penggunanya jadi lebih tidak jujur. Bahkan, kacamata palsu bisa mengubah persepsi dasar Anda. Beda halnya jika yang Anda gunakan adalah kacamata tertentu --di luar minus atau plus-- seperti kacamata radiasi untuk komputer.