GoldenLovers, Orang yang rutin minum segelas soda sehari, berapa pun berat badannya, berisiko tinggi terkena kanker. Begitu simpulan periset pada studi baru yang dipublikasikan di Public Health Nutrition.

Menukil The Guardian, periset pun mengaku terkejut dengan temuannya. Ternyata risiko kanker tinggi pada penggemar soda tak sepenuhnya didorong obesitas. Pasalnya, mereka yang minum soda tiap hari tapi tak punya masalah kelebihan berat badan pun berisiko terkena kanker.

"Awalnya hipotesis kami adalah minum soda akan menyebabkan obesitas, yang kemudian berhubungan dengan kanker terkait obesitas. Namun, kami menemukan ada lebih banyak hal yang memengaruhi obesitas," kata Prof Allison Hodge, pemimpin studi dari Cancer Council Victoria (CCV).

Harvard.edu menyebutkan, obesitas memang telah lama diketahui sebagai faktor risiko untuk kanker. Dan soda diduga berkontribusi terhadap kelebihan berat badan. Karenanya, berdasarkan dugaan itu, periset dari CCV dan University of Melbourne mempelajari lebih dari 35.000 orang Australia yang telah didiagnosis menderita kanker terkait obesitas.

Kanker terkait obesitas ini mencakup 11 jenis kanker. Di antaranya ginjal, kolorektal, esofagus, payudara pasca menopause, pankreas, endometrium, perut, hati, prostat agresif, ovarium dan kantong empedu.

Lewat data dari Melbourne Collaborative Cohort Study dalam rentang sepuluh tahun--yang dilaporkan selama 1990 -1994 dan 2003-2007--, periset mendapati 3.283 orang mengembangkan salah satu kanker terkait obesitas karena minum soda setiap hari.

Setelah menganalisis, juga menyesuaikan lingkar pinggang secara statistik, periset malah menemukan hubungan langsung antara konsumsi soda dan risiko kanker tanpa ada perantara obesitas.

Artinya, siapa pun dengan bentuk tubuh apapun, jika dia rajin minum soda walau cuma sekali sehari akan berpotensi menderita kanker.

Akan tetapi yang lebih mengejutkan, periset tidak menemukan risiko kanker pada mereka yang minum soda diet. Alasannya, profesor Hodge dan tim menduga tinggi rendahnya kandungan gula merupakan faktor kunci. Untuk memastikan, termasuk memahami bagaimana mekanismenya bekerja, Prof Hodge mengatakan perlu diadakan studi lebih lanjut.

Meski begitu, bukan berarti temuan studi tadi menganjurkan minum soda diet sebagai alternatif yang lebih aman dari soda bergula. Sebaliknya, seperti diimbau Todd Harper, Kepala Eksekutif CCV, studi baru ini perlu jadi satu alasan agar orang beralih minum air putih.

Sebabnya jelas. Baik itu soda biasa atau soda diet keduanya tergolong minuman manis. Bila kita teratur mengonsumsi minuman manis, akan ada risiko kesehatan lain yang muncul. Mulai dari kerusakan gigi sampai penyakit jantung.

"Kanker hanyalah salah satu dari banyak kondisi kesehatan kronis yang terkait dengan konsumsi minuman manis," ujar Harper.

Dengan kata lain, seperti ditegaskan Prof Hodge, jenis soda apapun sama-sama mengandung risiko kesehatan.

Sebuah penelitian pernah menemukan bahwa perempuan dan laki-laki yang mengonsumsi sekaleng soda sehari berisiko 75 persen lebih tinggi terkena asam urat ketimbang yang jarang minum soda. Sementara penelitian lain menyebutkan adanya peningkatan risiko diabetes tipe 2.

Bahkan, mengutip Newsweek.com, pakar kesehatan sejak lama mengkhawatirkan keamanan pengganti gula dalam minuman bersoda. Studi pada tikus telah membuktikan efek pemanis buatan yang menyebabkan kenaikan berat badan dan kanker.

Pada 2017, periset dari Boston University menunjukkan bahwa orang-orang yang mengonsumsi minuman berpemanis buatan lebih cenderung menderita strok dan demensia, meski tak ditemukan hubungan kausal dan faktor gaya hidup lainnya juga berpengaruh.

Kendati demikian, bukan hal mudah menjauhkan diri dan berhenti minum soda. Bagi yang terbiasa, efeknya serupa candu. Bukan cuma kecanduan soda, tapi juga kandungan kafein di dalamnya. "Butuh beberapa minggu untuk benar-benar melupakan keinginan (minum soda)," ungkap Barry Popkin, PhD dari University of North Carolina pada WebMD.