GoldenLovers, Grup predator anak Indonesia di Facebook terungkap Maret tahun lalu. Loly Candy, nama grup itu, menjadi ajang untuk menyebarkan konten pornografi dengan objek anak-anak di bawah umur. Jumlah anggota grup sangat banyak.

Di Facebook saja, Loly Candy mempunyai 7.479 anggota. Sedangkan di grup Whatsapp, Loly Candy mempunyai 150 anggota.

Polisi menemukan, konten pornografi anak di grup Loly Candy yang berada di Facebook juga berjumlah banyak. Setidaknya, menurut hasil analisa polisi saat itu, ada 500 video dan 100 foto.

Loly Candy adalah penegas bahwa eksploitasi seks terhadap anak di tengah masyarakat kita sudah menemukan bentuk-bentuk barunya. Kekerasan seksual terhadap anak bukan saja ditujukan untuk memberikan kepuasan seksual bagi pelakunya -seperti yang telah dikenal sebelumnya. Para predator itu menyasar anak-anak demi memperdagangkan manusia maupun memperdagangkan pornografi.

Bentuk-bentuk kejahatan terhadap anak itu bukan berubah bentuk, melainkan bertambah bentuk. Kejahatan seksual terhadap anak demi kepuasan pelaku masih terjadi bersamaan dengan perdagangan manusia dan perdagangan pornografi anak. Awal tahun ini ditandai oleh berita kejahatan para predator anak dalam berbagai bentuk.

Di Tangerang polisi menangkap seorang guru honorer yang dikenal dengan panggilan Babeh. Penangkapan itu merupakan respons atas laporan masyarakat. Babeh menjadi tersangka kasus pedofil.

Yang membuat masyarakat geram, korban Babeh sangatlah banyak. Semula polisi menyatakan korban kejahatan seksual Babeh berjumlah 25 anak. Belakangan polisi menemukan fakta baru yang menunjukkan bahwa korban sodomi Babeh mencapai 41 anak. Itu jelas jumlah yang luar biasa banyak.

Belum reda dengan pemberitaan Babeh, masyarakat kita kemudian dikejutkan lagi oleh peredaran video yang merekam adegan seksual bocah lelaki dengan perempuan dewasa atas arahan orang dewasa lain. Pada awal kehebohannya, video ini dianggap pertanda bahwa ada jenis baru predator anak.

Anggapan itu muncul karena selama ini predator anak yang tertangkap di tengah masyarakat kita adalah lelaki, dengan korban anak lelaki atau anak perempuan. Dalam video itu, perempuanlah yang tampak sebagai predator, dan bocah lelaki sebagai korbannya.

Meleset. Anggapan itu ternyata salah ketika polisi berhasil meringkus orang-orang yang terlibat dalam pembuatan video tersebut.

Polisi meringkus 6 orang yang terlibat di dalam video porno yang mengorbankan 3 anak-anak itu. Keenam orang itu terdiri dari sutradara, pemain, dan perekrut korban. Yang menyedihkan, orang tua dari anak-anak itu termasuk pihak yang ditangkap, karena ikut terlibat.

Pengakuan para tersangka dalam kasus ini menunjukkan bahwa video tersebut dibuat bukanlah demi kepuasan seksual para pelaku. Video itu diproduksi berdasarkan pesanan dari luar negeri. Keterlibatan para pelaku dalam produksi video porno itu lebih bermotif keuntungan ekonomi.

Dalam konteks kekerasan terhadap anak, produksi video porno yang melibatkan tiga bocah lelaki di Bandung itu memperlihatkan bahwa anak-anak bukan semata korban, melainkan juga telah diperlakukan tak ubahnya sebagai barang dagangan belaka. Dalam hal ini, anak-anak menjadi komoditas dalam industri pornografi.

Saat ini pornografi menjadi salah satu industri yang besar. Bahkan pornografi anak merupakan industri miliaran dolar. Anak-anak menjadi barang dagangan dalam industri itu.

Pornografi anak memang bukanlah satu-satunya kejahatan yang menjadikan anak-anak sebagai barang dagangan. Kita belum lupa bahwa pada 2016 polisi berhasil mengungkap prostitusi kaum gay, yang menjadikan anak-anak sebagai mata dagangannya.

Yang patut membuat kita cemas, kasus produksi video porno di Bandung itu menunjukkan bahwa penetrasi industri pornografi anak telah tiba di negeri kita. Seperti yang disampaikan pengamat, kasus tersebut juga mengindikasikan bahwa ada kebutuhan atas pornografi anak Indonesia -baik dari domestik maupun dari luar negeri.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat adanya peningkatan laporan kasus pornografi dan cybercrime yang melibatkan anak-anak pada 2017. Pada tahun 2016, untuk kasus pornografi dan cybercrime, KPAI menerima 414 laporan. Sedangkan pada 2017 masuk 514 laporan.

Gelagat-gelagat ini seharusnya sudah cukup menjadi alasan bagi semua pihak untuk lebih meningkatkan upaya untuk mencegah dan melawan berbagai bentuk perdagangan manusia dan kejahatan seksual yang menimpa anak-anak.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada awal 2016 telah meluncurkan Strategi Nasional Penghapusan Kekerasan terhadap Anak 2016-2020. Kita berharap strategi ini bisa dijalankan agar pencegahan kekerasan terhadap anak bisa berjalan dengan baik lewat pendekatan kultural, dan layanan dukungan kepada para korban terlaksana secara optimal.

Namun tampaknya pendekatan kultural saja tidak cukup untuk mencegah kekerasan -terutama eksploitasi seksual- terhadap anak. Para penegak hukum juga harus lebih jeli dalam menjaring para predator dan gelagat berkembangnya prostitusi dan industri pornografi anak.

Terutama di era Internet ini, kita sungguh berharap Polri bisa semakin optimal dalam mengendus dan menindak kejahatan eksploitasi anak secara online. Bagaimanapun, kita tahu, sejak 2006 Polri telah mempersenjatai diri dengan Child Exploitation Tracking System (Sistem Pelacakan Eksploitasi Anak).

Pendekatan struktural juga dibutuhkan untuk mengatasi persoalan perdagangan manusia yang mengorbankan anak-anak dalam bentuk prostitusi maupun industri pornografi.

Betapapun, kemiskinan adalah salah satu dorongan yang membuat para pelaku mengorbankan anak-anak. Penyelesaian masalah kemiskinan tak bisa tidak membutuhkan pendekatan struktural.