GoldenLovers, Sudah seharusnya jika publik memberikan perhatian yang besar atas kasus bunuh diri yang dilakukan seorang remaja putri di Blitar Selasa (29/5/2018). Peristiwa itu menjadi semacam sinyal tentang remaja-remaja kita yang diam-diam menyimpan persoalan yang bisa berujung secara fatal jika tidak mendapat perhatian sejak dini.

Apa motif pelajar SMP itu melakukan bunuh diri?

Ada yang mengaitkannya dengan persoalan pendidikan. Remaja putri itu, diduga, merasa sistem zonasi dalam penerimaan siswa baru SMA akan menghambatnya masuk ke sekolah yang diinginkannya. Ada juga yang mengaitkan tindakan bunuh diri itu dengan persoalan lain yang dihadapi sang remaja putri.

Dalam sejumlah kasus, mengungkap motif dan latar belakang tindakan bunuh diri bukanlah hal mudah. Seorang pelajar dari salah satu SMP di Malang melakukan bunuh diri di Selat Bali, dengan hanya meninggalkan pesan status Whatsapp-nya: "last day, thanks for everything goodbay world."

Terkait motif tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh anak-anak dan remaja, pada 2015 Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa pernah mengungkapkan angka yang agak mengejutkan. Menurut Khofifah, kematian bunuh diri anak-anak disebabkan oleh perisakan (bullying).

Selain motif dan latar belakangnya, yang patut mendapat perhatian serius adalah kecenderungan peningkatan angka bunuh diri yang dilakukan oleh remaja kita. Dan sebetulnya kewaspadaan kita terhadap kecenderungan itu seharusnya sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu.

Pada 2015 Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan melakukan survei yang melibatkan 10.300 siswa SMP dan SMA dari seluruh provinsi di Indonesia sebagai sampel. Survei itu bertujuan untuk melihat perilaku dan persoalan yang dihadapi siswa di sekolah. Namun survei tersebut juga menangkap sinyal kecenderungan bunuh diri di tengah para remaja itu.

Survei itu memperlihatkan 650 responden –sekitar 6 persen dari sampel- menyatakan punya keinginan bunuh diri. Mereka yang ingin bunuh diri itu didominasi oleh perempuan. Survei itu tidak meneliti lebih jauh pemicu keinginan bunuh diri itu.

Namun menurut Direktur Kesehatan Keluarga Ditjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Eni Gustina, “Dari evaluasi kami kemungkinan besar anak-anak ini kurang kasih sayang atau perhatian orang tua. Dari pertanyaan yang kami berikan, beberapa siswa mengaku selalu merasa sendiri dan kesepian. Ada yang mengaku punya tekanan mental, bahkan ingin bunuh diri.”

BACA JUGA:

Pada tahun yang sama survei kesehatan global berbasis sekolah 2015 memperlihatkan 18,6 persen remaja di Jakarta ingin bunuh diri. Jika dikelompokkan lagi, remaja yang mengalami gangguan emosional, 35 persen di antaranya mempunyai ide bunuh diri. Sedangkan pada populasi remaja normal, keinginan untuk bunuh diri itu jumlahnya 14 persen.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), angka kematian akibat bunuh diri –di berbagai tingkatan umur- di negeri kita pada 2016 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2000. Per 100 ribu populasi, pada tahun 2000 angka kematian bunuh diri di Indonesia adalah 3,9. Pada tahun 2005 turun menjadi 3,8. Tahun 2010 menjadi 3,6. Tahun 2015 turun lagi menjadi 3,4 dan bertahan sampai 2016 pada angka tersebut.

Meskipun ada kecenderungan penurunan, angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia masih tergolong tinggi. Hal itu bisa terlihat dari perbandingan dengan angka kematian bunuh diri pada tingkat regional dan global. Pada 2016, per 100 ribu populasi, angka kematian bunuh diri di wilayah Asia Tenggara adalah 13,2. Sedangkan di tingkat global adalah 10,6.

Dalam kondisi seperti itu, upaya pencegahan bunuh diri –terutama di kalangan remaja- harus dilakukan secara saksama dan cermat. Upaya itu pastilah akan melibatkan banyak pihak dan banyak pendekatan.

Keluarga dan lingkungan –termasuk sekolah- akan menjadi pihak yang penting dalam mencegah remaja kita ke arah bunuh diri. Keluarga dan lingkungan perlu mempunyai kemampuan untuk mendeteksi gejala depresi yang dialami remaja sehingga bisa melakukan upaya pencegahan lebih dini.

Pemerintah sudah seharusnya mempunyai program nyata yang terukur yang memungkinkan keluarga dan lingkungan mempunyai kemampuan untuk mendeteksi dan memberi jalan keluar bagi kecenderungan bunuh diri.

Sejak Juli 2016 Kementerian Kesehatan membuka nomor darurat untuk konseling pencegahan bunuh diri. Masyarakat diharapkan untuk menghubungi nomor 119 jika melihat ada orang yang ingin melakukan bunuh diri. Menurut Menteri Kesehatan, nomor yang sama bisa juga dipergunakan oleh siapapun untuk berkeluh kesah menceritakan masalahnya, demi terhindar dari depresi yang bisa berujung kepada ide untuk bunuh diri.

Namun pemerintah harus belajar dari pengalaman sebelumnya agar upaya pencegahan untuk mencegah bunuh diri lebih berhasil. Pada Oktober 2010 sebetulnya pemerintah sudah mengoperasikan nomor telepon 500-454 sebagai layanan konsultasi bagi pengidap depresi.

Namun layanan 500-454 itu harus dikatakan gagal. Jumlah penelepon ke nomor tersebut sangat minim, sementara angka bunuh diri masih tinggi. Layanan itu berhenti beroperasi pada 2014.

Untuk menghindarkan kegagalan yang sama, pemerintah harus mempertimbangkan langkah kampanye dan sosialisasi yang tepat. Sudah barang tentu langkah-langkah untuk mencegah bunuh diri pun harus bukan langkah ala kadarnya.

Tidak hanya pemerintah, semua pihak harus waspada dan tanggap terhadap gelagat keinginan untuk bunuh diri sekecil apapun. Mereka harus diselamatkan dari niat kelam untuk bunuh diri.

fShare
0