GoldenLovers, Siapa yang tidak mau memiliki wajah cantik dan tampan? Semua orang, jika boleh memilih, maka pasti ingin terlahir dengan penampilan fisik yang sedap dipandang. Bahkan, sejumlah studi banyak yang membuktikan bahwa memiliki tampilan cantik atau tampan memberikan banyak kemudahan dalam hidup.

Sebuah studi terdahulu yang dipublikasikan oleh jurnal Evolution and Human Behaviour mengungkapkan bahwa bentuk wajah yang dianggap ideal adalah simetris.

Mereka yang berwajah simetris, menurut studi, memiliki kualitas kesehatan yang lebih baik dibandingkan mereka yang berwajah kurang simetris. Periset pun menemukan, orang dengan wajah tidak simetris mudah sakit, baik laki-laki dan perempuan.

Kemudian, penelitian lain yang melibatkan 300 perusahaan periklanan di Jerman menyebutkan bahwa perusahaan yang memiliki banyak karyawan cantik atau tampan memperoleh penjualan yang lebih tinggi setiap tahun.

Lalu, apakah ini berarti kabar buruk untuk mereka yang memiliki penampilan yang dianggap benar-benar tidak menarik? Ternyata tidak.

Pasalnya, sebuah studi terbaru yang dipublikasikan Journal of Business of Psychology, mengungkapkan bahwa penghasilan orang yang memiliki penampilan sangat tidak menarik lebih tinggi dibandingkan mereka yang dianggap tampan atau cantik.

Satoshi Kanazawa dari London School of Economics and Political Science dan Mary Still dari University of Masschusetts di Boston, Amerika Serikat (AS), menganalisis data dari 20.000 warga AS.

Peneliti melakukan wawancara dan penilaian selama 13 tahun dengan para responden tersebut mulai dari usia mereka 16 tahun hingga mencapai 29 tahun.

Mereka menemukan bahwa hasil studi terdahulu mengenai penampilan fisik memengaruhi perolehan penghasilan, ternyata implementasi sesungguhnya tidak sesederhana itu.

Studi yang menyimpulkan bahwa orang berpenampilan menarik lebih sehat, menurut Kanazawa, jika dimasukkan ukuran penilaian lain, misal, kepribadian, maka orang-orang yang memiliki sifat periang, tidak mudah stres, dan perhatian, ditemukan lebih sehat serta bugar, meskipun paras mereka masuk dalam kategori biasa.

BACA JUGA:

Hal mengejutkan yang ditemukan oleh kedua peneliti ini adalah orang yang dianggap memiliki penampilan sangat tidak menarik, justru mendapatkan penghasilan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan orang dengan penampilan menarik dan penampilan biasa-biasa saja.

Orang-orang yang dianggap menarik, kata dia, biasanya memiliki banyak teman dan terbuka terhadap segala peluang. Hal ini bisa menjadi sumber masalah karena berpotensi meningkatkan kelalaian pada pekerjaan dan memengaruhi penghasilan tahunan mereka.

Sebaliknya, orang yang dianggap tidak menarik justru memiliki kecenderungan tidak banyak berteman, hal ini memudahkan mereka dalam berkonsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaan. Alhasil, pendapatan mereka mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

"Sangat mencengangkan bahwa ada korelasi antara kepribadian ekstrovert, penghasilan lebih rendah, dan daya tarik penampilan. Padahal, studi sebelumnya justru mengemukakan, penghasilan lebih tinggi didapatkan orang yang berpenampilan menarik," jelas Alex Fradera, seperti dinukil Business Insider.

Dia mengungkapkan bahwa bisa jadi studi yang mengaitkan penghasilan terhadap penampilan hanya meneliti responden dengan wajah tidak menarik dan tidak melakukan studi pada orang yang dianggap benar-benar tidak menarik.

"Kami tahu ada korelasi negatif antara keterbukaan dan komponen yang membuahkan tekad, sehingga efeknya pun tidak terpikirkan," imbuhnya.

Kondisi tersebut, kata Fradera, membuat para peneliti tidak memerhatikan bahwa orang-orang yang dianggap benar-benar tidak menarik oleh lingkungan sosial justru menghasilkan kinerja terbaik sehingga mereka memperoleh penghasilan sangat besar.

Dia mengatakan, penelitian sebelumnya tidak memperhitungkan keuntungan yang diperoleh orang-orang yang dianggap sangat tidak menarik oleh lingkungan sosial.

Sayang sekali, Kazanawa dan Still tidak menjabarkan secara rinci karakter penampilan yang dianggap menarik, tidak menarik, dan sangat-sangat tidak menarik. Alhasil, kesimpulan studi pun berada dalam bias subjektif dan tidak terarah.